ILMU KOMUNIKASI Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN)


Mengintip Aktivitas Klik Fotografi di Kalacitra UIN jakarta

Fotografi adalah sebuah hobi yang mengasyikkan sekaligus bisa mendatangkan fulus. Tak pelak, aktivitas fotografi pun semakin menjamur di berbagai kalangan, mulai dari kelas amatir hingga profesional. Mereka berkumpul bersama membentuk komunitas fotografi yang tersebar di berbagai tempat termasuk di kampus-kampus Jakarta.
Salah satu komunitas fotografi yang juga aktif di kampus adalah Kalacitra. Komunitas ini bermarkas di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta. Berdiri sejak 17 September 2001, tidak terasa komunitas ini sudah berusia 11 tahun.
Kalacitra sendiri mengambil nama dari sebuah artikel sastra yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Salah seorang pendirinya yaitu Andi Key pun lantas berpikir kalau Kalacitra adalah nama yang cukup unik dan pas untuk menjadi nama sebuah komunitas fotografi di UIN. komunitas Kalacitra, diwakili M. Iqbal Ichsan, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya, menjelaskan, “Kala itu berarti waktu, sedangkan citra itu berarti gambar. Jadi cocok untuk menjadi nama sebuah klab fotografi di UIN.”
Nah, sebagai sebuah komunitas fotografi, Kalacitra termasuk yang beruntung. Pasalnya Kalacitra langsung masuk dalam struktur organisasi di bawah universitas. Ini berbeda dengan komunitas fotografi yang umumnya berdiri sendiri di luar universitas atau memang murni berdasarkan hobi. Karena terbentuk langsung di bawah universitas, maka komunitas ini memiliki struktur organisasi yang cukup komplit. Kalacitra memiliki berbagai macam divisi. Setidaknya ada empat divisi di dalam Kalacitra. Keempat divisi tersebut adalah pendidikan, pameran, jaringan dan komunikasi, serta Sumber Daya Manusia (SDM).
“Masing-masing divisi itu memiliki program setiap tahun yang harus dilakukan. Mulai dari program pendidikan fotografi dasar, fotografi jurnalistik hingga membuat pameran fotografi. Semua divisi punya program unggulan masing-masing,” kata M. Iqbal, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya.
Sebagai salah satu contohnya adalah divisi pengembangan SDM. Divisi ini kerap mengadakan workshop fotografi, serta mengadakan kerjasama dengan kaum dhuafa untuk belajar fotografi. Mereka juga kerap mengadakan pameran bulanan, hingga pameran bertema tertentu seperti pameran fotografi berkaitan dengan hari buruh internasional (Mayday).
Lalu bagaimana untuk bisa menjadi anggota Kalacitra? Syaratnya cukup mudah. Di Kalacitra siapa saja bisa bergabung asal memiliki hobi di bidang fotografi. Jadi tidak harus berasal dari jurusan jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi. Menurut M. Iqbal, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya, “Yang penting, anggota muda harus mau mengikuti pendidikan dasar, dan aktif di berbagai kegiatan termasuk pameran foto.”
Sebagai sebuah organisasi, Kalacitra juga punya visi misi. Adapun visi mereka adalah menjadi wadah bagi orang-orang yang berhobi sama, yaitu fotografi. Sementara misinya adalah membentuk anggotanya agar tidak hanya punya ketrampilan fotografi, tapi juga punya kemampuan organisatoris.
“Sebenarnya tujuan utamanya adalah kita tidak menciptakan orang sebagai fotografer tapi lebih kepada mereka yang juga bisa berorganisasi. Jadi bisa bertanggung jawab kepada UIN dan organisasi Kalacitra,” M. Iqbal, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya menjelaskan.
Mengapa anggota Kalacitra harus pintar berorganisasi? Sebab para anggotanya harus bisa melobi pihak kampus agar terus mendukung kegiatan yang mereka jalankan. “Jadi setiap anggotanya mesti belajar berorganisasi sebelum nanti terjun ke dunia kerja yang sangat keras. Bagaimana setiap divisi di dalam struktur organisasi menjalankan programnya,” tandas mereka.
Sebagai bukti kalau Kalacitra ini cukup punya nama di Jakarta adalah salah satu mantan anggotanya Muhammad Agung Rajasa berhasil meraih penghargaan Anugerah Adinegoro tahun 2011. Di sinilah keunggulan Kalacitra.
Walau demikian, Kalacitra juga tidak melulu soal organisasi. Buktinya seabrek kegiatan pernah mereka adakan. Mulai dari pameran karya anak-anak Kalacitra, hingga menerima order job foto wedding secara berkala. Khusus untuk orderan foto wedding ini, bisa mendatangkan fulus yang lumayan.
Selain sudah terbiasa menggarap foto wedding, mereka juga terbiasa menggarap buku tahunan. Kerap juga mengadakan foto sesi dengan model untuk mengasah keterampilan. Berbagai kegiatan itu tentunya diadakan oleh masing-masing divisi tadi.
Bahkan Kalacitra juga kerap menjadi langganan dokumentasi kegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lain. Bila sudah diminta untuk menjadi tim dokumentasi bagi UKM lain, maka mereka kerap mengadakan sistem kerjasama. “Jadi lebih ke sosial nggak komersil,” ujar M. Iqbal, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya. Salah satu contohnya adalah saat penerimaan mahasiswa baru.
Sebenarnya apakah pihak kampus mendukung kegiatan mereka? Sepanjang perjalanan Kalacitra, dukungan pihak kampus terhadap komunitas ini masih minim. Walau demikian, mereka tidak pernah menemui jalan buntu untuk melakukan berbagai aktivitas. Modalnya adalah jaringan dengan komunitas lain di Jakarta.
Untuk ke depannya Kalacitra masih tetap berada di kampus. Mereka akan menjaring anggota sebanyak-banyaknya dan  membuat kegiatan yang bervariasi. Bagi yang sudah lulus pun dan tetap ingin eksis di dunia fotografi, masih bisa terus bergabung. Bahkan yang punya niat untuk membuka studio sendiri juga sudah banyak. Ada juga yang memotret untuk pembuatan film.
Lalu bagi mereka, fotografi itu apa sih? Pertama, fotografi adalah alat perjuangan. Jadi bisa melatih kepekaan untuk kemudian diperjuangkan. Kedua, fotografi adalah sebuah perjalanan menuju keabadian. Dan ketiga, fotografi adalah sejarah dokumentasi dari rekaman sejarah kehidupan manusia. Serta keempat, fotografi membuat hidup jadi lebih hidup. Okelah! (*)

Comments are closed.