Membuat Twitter Box Follower di Blog Seperti Like box Facebook


Twitter Box Follower yaitu widget yang menampilkan siapa saja yang sudah ngefollow twitter kita, tampilannya mirip dengan Like Box Facebook yang sering di pasang di blog. Mungkin ada yang berminat dengan gadget ini?? kalau ia,, silahkan di simak langkah-langkah membuatnya di bawah ini...

Cara membuatnya sederhana, silahkan copas code di bawah ini :
    <!-- Twitter Follower Box --> <script type='text/javascript'> function fanbox_init(screen_name){document.getElementById('twitterfanbox').innerHTML='\<iframe name=\"fbfanIFrame_0\" frameborder=\"0\" allowtransparency=\"true\" src=\"http://s.moopz.com/connect.html?user='+screen_name+'\" class=\"FB_SERVER_IFRAME\" scrolling=\"no\" style=\"width: 295px; height: 250px; border-top-style: none; border-right-style: none; border-bottom-style: none; border-left-style: none; border-width: initial; border-color: initial; \"\>\<\/iframe\>';} </script> <div id="twitterfanbox"></div><script type="text/javascript">fanbox_init("akbaarbk"); <!-- End Twitter Follower Box --></script >



  • Ganti tulisan berwarna merah/ tulisan akbaarbk dengan nama twitter Anda




  • untuk merubah lebar dan tingginya silahkan di rubah angka yang berwarna biru




  • Pastekan codenya di Elemen-laman blog Anda, dengan cara masuk ke Rancangan > Tambah gadget > HTML/javascript kemudian paste codenya,,




  • eetzz jangan lupa di save dulu..
  • dan terakhir membuat daptar orderan vinka andranisa - Bandung: BDOE800120366812(JNE)

    denisa -kalimantan selatan :BDOE800120366914(JNE)

    Adi Permana - Jakarta: 1532590(Indah)

    wahyu irlangga - padang: 1915381240008(JNE)

    bery dw - bogor : 1534023(Pandu)

    Mengenal Industri Kreatif


    Pada awal 1990, kota-kota di Inggris mengalami penurunan produktivitas dikarenakan beralihnya pusat-pusat industri dan manufaktur ke negara-negara berkembangyang menawarkan bahan baku, harga produksi dan jasa yang lebih murah. Menanggapi kondisi perekonomian yang terpuruk, calon perdana menteri Tony Blair dan New Labour Party menawarkan agenda pemerintahan yang bertujuan untuk memperbaiki moral dan kualitas hidup warga Inggris dan memastikan kepemimpinan Inggris dalam kompetisi dunia di milenium baru, salah satunya dengan mendirikan National Endowment for Science and the Art (NESTA) yang bertujuan untuk mendanai pengembangan bakat-bakat muda di Inggris.

    Setelah menang dalam pemilihan umum 1997, Tony Blair sebagai Perdana Menteri Inggris melalui Department of Culture, Media and Sports (DCMS) membentuk Creative Industries Task Force yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kontribusi industri kreatif  terhadap perekonomian Inggris. Pada tahun 1998, DCMS mempublikasikan hasil pemetaan industri kreatif Inggris yang pertama, dimana industri kreatif didefinisikan sebagai: “those industries which have their origin in individual creativity, skill and talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content”. Definisi DCMS ini selanjutnya banyak diadopsi oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia.
    Pendekatan Pendefinisian Definisi Industri Kreatif
    Menurut Stuart Cunningham-Direktur Pusat Penelitian dan Aplikasi Industri Kreatif, Queensland University of Technology-2003, beberapa pendekatan dalam pendefinisian industri kreatif antara lain adalah:
    Kriteria/ PendekatanCreative IndustriesCopyright IndustriesContent IndustriesCultural IndustriesDigital Content
    DefinisiDikarakterisasi kan sebagian besar lewat input tenaga kerjanya, yaitu individu kreatifDidefinisikan lewat aset dan output industriDidefinisikan pada fokus produksi industriDidefinisikan pada pembiayaan dan fungsi kebijakan publikDidefinisikan lewat kombinasi teknologi dan fokus produksi industri
    KelompokAdvertising, Architecture, Design, Interactive, Software, Film & TV, Music, Publishing, Performing ArtsCommercial Art, Creative Arts, Film & Video, Music, Publishing, Recorded Media, Data Processing, SoftwarePre-recorded music, Recorded, Music Retailing, Broadcasting & Film, Software, Multimedia ServicesMuseums & Galleries, Visual arts & crafts, Arts Education, Broadcasting & Film, Music, Performing Arts, Literature, LibrariesCommercial Art, Film & Video, Photography, Electronic Games, Recorded Media, Sound Recording, Information, Storage & Retrieval
    KeterbatasanAdanya kesulitan dlm pencarian data dan pengukuran dampak ekonomiMemerlukan klasifikasi industri yang sesuaiRuang lingkup sangat terbatasRuang lingkup sangat luas, berbeda-beda untuk tiap negaraRuang lingkup sangat terbatas masih perlu dieksplor lebih lanjut
    Sumber: Cutler & Co/CIRAC, 2003
                                                                                                                                                                          Di Indonesia sendiri, Industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

    Rini Sugianto, Sang Animator di Balik "The Adventure of Tintin"


    Seketika nama Rini Sugianto (31) mendadak ramai dibicarakan media massa di Indonesia. Bagaimana tidak, perempuan yang pernah berkuliah di Arsitektur Universitas Parahyangan ini ternyata salah satu animator dibalik suksesnya film "The Adventure of Tintin".

    Tidak ada sebersit niat Rini kecil untuk menjadi seorang animator, malah ketika bersekolah di SMA Regina Pacis, Bogor, ia fokus di bidang olahraga. Namun ternyata jurusan arsitektur yang ia pilih waktu berkuliah Universitas Parahyangan mengantarkannya ke dunia animasi.

    "Mulai belajar animasi mulainya dari belajar 3D dulu untuk arsitektur. Setelah itu baru menjalar ke animasi dan mulai merasa kalo animasi itu lebih tepat untuk saya," ungkap Rini dalam surat elektroniknya kepada Indonesia Kreatif.

    Ketika mantap ingin menjadi seorang animator, tantangan pertama yang harus ia hadapi adalah keraguan orang tuanya. Tekanan orang tua yang kurang mendukung dengan keputusannya untuk menjadi seorang animator merupakan pekerjaan rumah tersendiri bagi Rini. Namun akhirnya kedua orang tuanya luluh juga ketika melihat Rini serius menjalani pekerjaannya. "Lama-lama mereka lihat juga kalau ini memang jalan hidupnya," katanya.
    Bagi Rini, memang butuh waktu yang tidak sebentar untuk menjadi seorang animator. Setelah selesai kuliah di Universitas Parahyangan, ia melanjutkan pendidikan di Academy of Art University, San Francisco, MFA Animation (2002-2005). Dan kini ia bekerja di Weta Digital, New Zealand. Sebuah perusahaan yang mengerjakan visual effects dan animasi untuk film dan iklan. 

    "Setelah kuliah, saya intern dulu di Stormfront Studio, baru ke Offset Software, terus ke Blur Studio, baru ke Weta. Pretty much perjuangannya sampai ke Weta sekitar 5 tahun. Tintin ini film pertama saya," cerita Rini tentang perjuangannya.

    Weta Digital adalah satu-satunya studio animasi yang berbasis di New Zealand. Keadaan industri animasinya pun menurut Rini agak jomplang, karena tidak ada perusahaan besar lainnya, "Tidak seperti di US atau Canada," katanya.

    Ternyata tidak hanya Rini sendiri yang bekerja di Weta Digital. Masih ada beberapa orang Indonesia yang dengan kerja keras berhasil bekerja di perusahaan tersebut. "Saya enggak tau pastinya berapa banyak di New Zealand, tapi kalau di Weta, saya sendiri di animation departement. Tapi ada juga orang Indonesia di departement lain seperti rotoscopefx, dan pipeline," jelasnya.
    Rini pun bercerita tentang persaingan antar animator. "Persaingannya ketat, soalnya makin banyak lulusan-lulusan sekolah animasi yang punya demo reel yang sangat bagus. Jadi makin lama jumlah animator dan demand dari company-nya jadi enggak imbang. Dan juga kalau demo reel kita enggak setara sama standar luar, agak susah untuk di-hire," jelas Rini.

    Untuk itu Rini juga merasa kalau dunia animasi di Indonesia sudah tertinggal dibanding Singapora dan Malaysia. "Mereka sudah lebih maju dalam industri animasinya, dalam artian pekerjaan animasi di negara mereka lebih banyak dan lebih berskala besar," tuturnya.

    Terakhir, Rini memberikan rekomendasi tempat bagi kalian yang ingin mendalami dunia animasi. Tapi yang penting diketahui terlebih dahulu adalah bahwa 3D itu dibagi banyak jurusan dan animasi adalah salah satunya. "Animation itu hanya untuk bagian penggerakannya," katanya. "Untuk di dalam negeri saya sendiri tidak terlalu paham, karena saya sudah lama tidak tinggal di Indonesia. Untuk di luar negeri, ada beberapa sekolah yang spesialisasi di animation, seperti animation mentor, salah satuonline animation school. Tapi banyak juga sekolah khusus animasi yang bagus di US dan Canada, juga di France seperti Gobelins," tambahnya menutup perbincangan.

    Rini Sugianto
    Character Animation
    Education: 
    - Academy of Art University, San Francisco, CA
    MFA Computer Art, 3D Animation, May 2005
    - Parahyangan University, Bandung, Indonesia
    Bachelor in Architecture, In Top Ten Graduates, June 2001
     
    Experience:
    Animator, New Zealand, (2010-present)
    Weta Digital
    - Animator for Featured film, The Adventure of Tintin: Secret of the Unicorn
    Supervising Animator / Animator, Venice, USA (2007-2010)
    Blur Studio
    - Supervising current cinematic project
    - Lead Animator for Warhammer online 2008
    - Animator for various project
    Cinematic Animator, Newport Beach, USA (2006-2007)
    Offset Software
    - Created Animation Game Cinematic
    Cinematic Animator, San Rafael, USA (2005-2006)
    Stormfront Studios
    - Created Animation and Layout for FMV and In Game Cinematic (Eragon’s game)
    - Created animatics for upcoming game

    Achievement:
    - Participated at Osmosis Art show at Gnomon School for sculpting
    - Within the top ten graduates of Architecture Department, Parahyangan University, 2001
    - The top ten of Telkomsel Photography competition in Bandung

    ILMU KOMUNIKASI Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN)


    Mengintip Aktivitas Klik Fotografi di Kalacitra UIN jakarta

    Fotografi adalah sebuah hobi yang mengasyikkan sekaligus bisa mendatangkan fulus. Tak pelak, aktivitas fotografi pun semakin menjamur di berbagai kalangan, mulai dari kelas amatir hingga profesional. Mereka berkumpul bersama membentuk komunitas fotografi yang tersebar di berbagai tempat termasuk di kampus-kampus Jakarta.
    Salah satu komunitas fotografi yang juga aktif di kampus adalah Kalacitra. Komunitas ini bermarkas di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta. Berdiri sejak 17 September 2001, tidak terasa komunitas ini sudah berusia 11 tahun.
    Kalacitra sendiri mengambil nama dari sebuah artikel sastra yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Salah seorang pendirinya yaitu Andi Key pun lantas berpikir kalau Kalacitra adalah nama yang cukup unik dan pas untuk menjadi nama sebuah komunitas fotografi di UIN. komunitas Kalacitra, diwakili M. Iqbal Ichsan, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya, menjelaskan, “Kala itu berarti waktu, sedangkan citra itu berarti gambar. Jadi cocok untuk menjadi nama sebuah klab fotografi di UIN.”
    Nah, sebagai sebuah komunitas fotografi, Kalacitra termasuk yang beruntung. Pasalnya Kalacitra langsung masuk dalam struktur organisasi di bawah universitas. Ini berbeda dengan komunitas fotografi yang umumnya berdiri sendiri di luar universitas atau memang murni berdasarkan hobi. Karena terbentuk langsung di bawah universitas, maka komunitas ini memiliki struktur organisasi yang cukup komplit. Kalacitra memiliki berbagai macam divisi. Setidaknya ada empat divisi di dalam Kalacitra. Keempat divisi tersebut adalah pendidikan, pameran, jaringan dan komunikasi, serta Sumber Daya Manusia (SDM).
    “Masing-masing divisi itu memiliki program setiap tahun yang harus dilakukan. Mulai dari program pendidikan fotografi dasar, fotografi jurnalistik hingga membuat pameran fotografi. Semua divisi punya program unggulan masing-masing,” kata M. Iqbal, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya.
    Sebagai salah satu contohnya adalah divisi pengembangan SDM. Divisi ini kerap mengadakan workshop fotografi, serta mengadakan kerjasama dengan kaum dhuafa untuk belajar fotografi. Mereka juga kerap mengadakan pameran bulanan, hingga pameran bertema tertentu seperti pameran fotografi berkaitan dengan hari buruh internasional (Mayday).
    Lalu bagaimana untuk bisa menjadi anggota Kalacitra? Syaratnya cukup mudah. Di Kalacitra siapa saja bisa bergabung asal memiliki hobi di bidang fotografi. Jadi tidak harus berasal dari jurusan jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi. Menurut M. Iqbal, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya, “Yang penting, anggota muda harus mau mengikuti pendidikan dasar, dan aktif di berbagai kegiatan termasuk pameran foto.”
    Sebagai sebuah organisasi, Kalacitra juga punya visi misi. Adapun visi mereka adalah menjadi wadah bagi orang-orang yang berhobi sama, yaitu fotografi. Sementara misinya adalah membentuk anggotanya agar tidak hanya punya ketrampilan fotografi, tapi juga punya kemampuan organisatoris.
    “Sebenarnya tujuan utamanya adalah kita tidak menciptakan orang sebagai fotografer tapi lebih kepada mereka yang juga bisa berorganisasi. Jadi bisa bertanggung jawab kepada UIN dan organisasi Kalacitra,” M. Iqbal, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya menjelaskan.
    Mengapa anggota Kalacitra harus pintar berorganisasi? Sebab para anggotanya harus bisa melobi pihak kampus agar terus mendukung kegiatan yang mereka jalankan. “Jadi setiap anggotanya mesti belajar berorganisasi sebelum nanti terjun ke dunia kerja yang sangat keras. Bagaimana setiap divisi di dalam struktur organisasi menjalankan programnya,” tandas mereka.
    Sebagai bukti kalau Kalacitra ini cukup punya nama di Jakarta adalah salah satu mantan anggotanya Muhammad Agung Rajasa berhasil meraih penghargaan Anugerah Adinegoro tahun 2011. Di sinilah keunggulan Kalacitra.
    Walau demikian, Kalacitra juga tidak melulu soal organisasi. Buktinya seabrek kegiatan pernah mereka adakan. Mulai dari pameran karya anak-anak Kalacitra, hingga menerima order job foto wedding secara berkala. Khusus untuk orderan foto wedding ini, bisa mendatangkan fulus yang lumayan.
    Selain sudah terbiasa menggarap foto wedding, mereka juga terbiasa menggarap buku tahunan. Kerap juga mengadakan foto sesi dengan model untuk mengasah keterampilan. Berbagai kegiatan itu tentunya diadakan oleh masing-masing divisi tadi.
    Bahkan Kalacitra juga kerap menjadi langganan dokumentasi kegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lain. Bila sudah diminta untuk menjadi tim dokumentasi bagi UKM lain, maka mereka kerap mengadakan sistem kerjasama. “Jadi lebih ke sosial nggak komersil,” ujar M. Iqbal, Fahmi Mubarok, dan rekan lainnya. Salah satu contohnya adalah saat penerimaan mahasiswa baru.
    Sebenarnya apakah pihak kampus mendukung kegiatan mereka? Sepanjang perjalanan Kalacitra, dukungan pihak kampus terhadap komunitas ini masih minim. Walau demikian, mereka tidak pernah menemui jalan buntu untuk melakukan berbagai aktivitas. Modalnya adalah jaringan dengan komunitas lain di Jakarta.
    Untuk ke depannya Kalacitra masih tetap berada di kampus. Mereka akan menjaring anggota sebanyak-banyaknya dan  membuat kegiatan yang bervariasi. Bagi yang sudah lulus pun dan tetap ingin eksis di dunia fotografi, masih bisa terus bergabung. Bahkan yang punya niat untuk membuka studio sendiri juga sudah banyak. Ada juga yang memotret untuk pembuatan film.
    Lalu bagi mereka, fotografi itu apa sih? Pertama, fotografi adalah alat perjuangan. Jadi bisa melatih kepekaan untuk kemudian diperjuangkan. Kedua, fotografi adalah sebuah perjalanan menuju keabadian. Dan ketiga, fotografi adalah sejarah dokumentasi dari rekaman sejarah kehidupan manusia. Serta keempat, fotografi membuat hidup jadi lebih hidup. Okelah! (*)

    Bisnis Fotografi dan Bagaimana Memulainya


    Jakarta – Perkembangan dunia bisnis fotografi era digital seharusnya tidak hanya pada peralatan dan perlengkapannya saja, namun bagaimana cara untuk bisa memanfaatkan alat-alat tersebut menjadi sebuah lahan bisnis dengan cara menjual jasa fotografi. Fotografi komersial yang terbiasa di dengar di masyarakat umum telah menjadikan berbagai macam bidang fotografi yang berhubungan dengan industri,  menjadi sebuah lahan bisnis yang begitu banyak diminati saat ini. Namun tidak semudah itu untuk bisa terjun dan masuk serta bersaing di dunia fotografi komersial, banyak yang sudah menggelutinya namun kandas di tengah jalan.
    Bertempat di Lorong Loket Pintu Selatan Stasiun Cikini, Komunitas BauTanah Galeri Jalanan pada hari Minggu (5/8) menggelar acara Bedah Buku “ Bisnis Fotografi “ bersama penulisnya Tirto Andayanto MR. Beliau juga merupakan pengajar kelas Basic Photography yang setiap minggu diadakan di Komunitas BauTanah Cikini. Dalam buku yang diterbitkan oleh penerbit Tiga Serangkai ini, dijelaskan secara detail tahapan-tahapan bagaimana cara memulai terjun di bisnis fotografi.
    Dalam kesempatan bedah buku kali ini, Tirto Andayanto MR memberikan tips dan triknya untuk bisa menjual jasa fotografi tanpa merusak harga pasar. Menurutnya, persaingan dalam memberikan harga jasa fotografi saat ini semakin ketat, di mana semuanya bisa dengan mudah mendapatkan peralatan fotogarafi dan belajar fotografi, sehingga banyak yang lupa bahwa untuk bisnis fotografi, semua yang sudah diinvestasikan dan dipelajari mempunyai harga, dan tentunya setiap orang akan berbeda harganya sesuai dengan alat yang diinvestasikannya. Jadi jangan heran apabila ada sebuah agensi jasa fotografi mematok harga yang mahal, sedangkan yang lain mematok harga murah, karena perhitungannya jelas, yaitu mereka telah menginvestasikan alatnya dan tentunya harus bisa mengembalikan modal awal ketika berinvestasi alat tersebut.
    Namun jangan terpatok dahulu dengan peralatan yang harus diinvestasikan, yang terpenting adalah bisa atau tidak kita menjual jasa fotografi untuk kebutuhan komersial. Soal peralatan, saat ini sudah banyak yang bisa disewa. Untuk tetap mendapatkan kepercayaan dari klien, seseorang yang ingin terjun di bisnis fotografi, tentunya harus memahami manajemen fotografi, supaya setiap angka yang dikeluarkan bisa dengan jelas dipahami oleh klien. Kuncinya adalah memisahkan harga produksi dengan harga jasa, karena inilah yang membuat seorang klien bisa mengetahui harga sebenarnya. Jangan sampai keuntungannya adalah harga yang di mark-up dari harga produksi.
    Untuk memberikan semangat kepada para fotografer muda yang hadir dalam bedah buku tersebut, Tirto Andayanto MR memberikan sebuah petikan yang kiranya bisa dijadikan penyemangat, yaitu “dalam fotografi komersial sebuah karya foto tidak dilihat dari siapa orangnya, tapi bagaimana karyanya”. Jadi selama bisa berkarya dengan baik dan benar serta bagus menurut ukuran klien, maka jangan surut untuk terjun di bisnis fotografi. Tapi jangan kesampingkan juga etika dan attitude agar menjaga suasana dunia fotografi tetap nyaman untuk digeluti. Acara yang dihadiri lebih dari 50 orang ini kemudian ditutup dengan buka bersama.
    Komunitas BauTanah yang berada di sekitar Stasiun Cikini adalah salah satu dari sekian banyak komunitas di Jakarta yang peduli akan edukasi terhadap masyarakat yang ingin mengetahui berbagai perkembangan pengetahuan umum. Kegiatan mereka di antaranya, secara rutin mengadakan kelas basic photography, kelas penulisan, kelas bahasa Inggris, kelas bahasa Prancis, dan kelas melukis. Selain kelas-kelas tersebut, komunitas ini juga rutin mengadakan Pameran Fotografi di Galeri Jalanan BauTanah yang menempati tembok Stasiun Cikini, serta kegiatan sosial lainnya seperti bazar, garage sale, dan Cikini Street Blues. Mereka juga sering mengadakan acara yang berkolaborasi dengan komunitas lain seperti dengan Komunitas Lubang Jarum Indonesia, Komunitas Atap Alis, Institute A, dan Komunitas Wildlife Indonesia. Selain itu masih banyak lagi kegiatan lainnya yang semuanya bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas, dan mengkampanyekan bahwa ruang publik adalah milik publik yang bisa dimanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan positif. Semua kegiatan yang diadakan Komunitas BauTanah menempati area lorong loket untuk belajar, dan trotoar serta dinding stasiun untuk pameran dan kegiatan lainnya. Jangan sampai ruang dan waktu menjadi pembatas untuk berkreativitas, seperti yang tercermin dari motto komunitas BauTanah “Satu Karya Loe Bikin Pinter Anak Bangsa”. (*)

    NGADU IDE #4


    Bandung- Seperti biasa, di setiap hari Jumat pertama di tiap bulannya NGADU IDE (Ngobrol Asyik Dunia Usaha & Ide) digelar. Bertempat di S.28 Professional Office & Cafe, Bandung, Jumat (6/4) lalu, NGADU IDE #7 mengambil tema “Presentation for Dummies”. Hadir sebagai pembicara utama adalah Ridwan Kamil sebagai ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) serta pendiri Urbane Indonesia, juga M.Kh. Rachman Ridhatullah dari Sygma Creative Media Corporation. Untuk melengkapi acara malam itu seperti biasa diadakan juga Teras Ide (mini eksibisi) dan Unjuk Ide (presentasi usaha).
    Kang Ben Wirawan dari Mahanagari sebagai pembawa acara menjelaskan maksud dari tema NGADU IDE #7 adalah adalah sebagai pelaku di dunia usaha baik yang pemula maupun pemain lama, selalu saja harus melakukan presentasi mengenai usahanya dalam berbagai kesempatan. Nah, bagaimanakah cara presentasi yang baik itu? 

    Kang Rachman yang sudah terjun ke dalam dunia periklanan sejak tahun 1989 mengatakan bahwa dalam presentasi yang utama adalah ide. Jika ide itu berhasil maka langkah keduanya adalah mengkomunikasikannya.

    “Setiap orang pasti bisa berkomunikasi. Tapi kenapa gagal? Karena tidak pernah diperbaiki. Itulah perbedaan antara praktisi dan orang awam,” tuturnya.

    Itu mengapa menurutnya sebenarnya semua orang memiliki potensi untuk berkomunikasi dengan baik. Dan jika hal itu berjalan baik, maka bukan saja kita akan mahir melakukan presentasi ke klien (eksternal) tapi juga ke dalam perusahaan kita sendiri (internal).

    “Yang dijual itu bukan produk (atau jasa) tapi idenya dulu, ide (itulah) yang akan membedakan dengan produk (atau jasa) lain,” terangnya.
    Lebih lanjut mengenai komunikasi, Kang Rachman menyatakan bahwa sebaik apapun ide kita dikonsep maka akan percuma jika kita tidak bisa mengkomunikasikannya. Caranya adalah melihat dari sudut pandang orang yang akan kita beri presentasi, apakah dia klien atau konsumen. Kita harus melihat apa yang dia inginkan atau apa yang dia butuhkan, dengan begitu presentasi kita akan menarik baginya.

    Setelah itu, membuka obrolan dengan Kang Ridwan Kamil atau yang biasa disapa Kang Emil, Kang Ben dari Mahanagari menanyakan apa yang membuat dirinya bisa terus kreatif.

    “Setiap orang bertanya pada saya bagaimana caranya agar terus kreatif, bagi saya kuncinya adalahtravellingTravelling itu membuat imajinasi terus berkembang. Dan selagi travelling itu kita harus memiliki photographic memory, sehingga jika kita membutuhkan suatu inspirasi memory (dalam kepala) itu tinggal kita download,” tuturnya.

    Kang Emil juga kemudian menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi itu sangat penting untuk dimiliki. Karena itu Indeks Prestasi yang tinggi saja tidak cukup, tapi kita juga harus berorganisasi.

    “Biasakan berorganisasi, karena disana kita akan belajar cara berkomunikasi. Bagaimana caranya kita bisa mengajak orang-orang agar dapat mengikuti keinginan kita, hal itu dapat dipelajari disana,” lanjutnya.
    Kemudian mengenai teknik berpresentasi, Kang Emil memiliki beberapa tips agar dapat meyakinkan klien kita. Yang pertama adalah harus percaya diri. Kepercayaan diri itu bisa timbul jika kita telah menyiapkan dengan baik bahan presentasi kita.

    “Saya suka menyiapkan hingga ratusan slide show, tapi saya tidak tampilkan semua. Yang saya tampilkan hanya sedikit. Tapi jika ada sebuah pertanyaan, saya sudah siap menjawabnya. Karena jawaban dari pertanyaan itu sudah ada di salah satu slide show yang saya siapkan,” urai Kang Emil.
    Tips kedua dalam berpresentasi adalah menggunakan bahasa tubuh yang baik, sehingga orang-orang bisa fokus pada diri kita. Kemudian tips yang ketiga adalah hindari banyak teks. Semua yang ditayangkan sebaiknya penuh dengan gambar. Jangan sampai kita hanya sekedar membaca tulisan di slide show, tapi kita harus bisa menceritakannya lewat gambar.

    “Biasanya setelah presentasi atau seminar orang suka meminta bahan slide show saya, ya saya kasih saja. Padahal orang belum tentu mengerti apa isinya, karena isinya cuma foto semua,” disambut gelak tawa hadirin. 

    Lalu tips Kang Emil yang terakhir adalah sangat penting untuk membuat kesimpulan. Sehingga jelas pada akhirnya apa yang kita maksudkan, dan tidak membuat presentasi kita menggantung.   

    Hal penting lainnya menurut Kang Emil dalam meyakinkan klien di dalam dunia usaha adalah kita harus menggunakan bahasa yang tepat, yang sesuai dengan target audiens kita. Sementara itu kita juga harus memposisikan diri dan membangun persepsi bahwa kita adalah partner yang potensial.

    Serunya perbincangan malam itu membuat NGADU IDE#7 memecahkan rekor sebagai NGADU IDE terlama, karena baru pukul 23.00 WIB lebih acara berakhir. Hal ini menunjukan antusiasme yang besar dan terus berkembang setiap bulannya dari para pengunjung NGADU IDE. Untuk itu, sampai berjumpa di NGADU IDE #8 yang akan diselenggarakan pada 04 Mei 2012, dengan tema dan narasumber yang lebih seru lagi. (wmn)

    Ngadu Ide vs Pidi Baiq


    Bandung- Ada yang berbeda dari Ngadu Ide kali ini, yaitu karena hadirnya Pidi Baiq, seseorang yang menasbihkan dirinya sebagai Imam Besar The Panas Dalam. Pidi mungkin bukan seorang pengusaha tulen, dia adalah seorang desainer, penulis, pencipta lagu, dan lainnya. Tapi dia diundang karena sering memiliki ide-ide kreatif dan orisinal (baca: gila).
    Berbagai gagasannya itu selalu disampaikan dengan cara yang kocak serta membalikan logika yang ada. Namun jika direnungkan, sesableng apapun ucapannya selalu saja terkandung suatu nilai kejujuran dan kebenaran di dalamnya. Itulah hebatnya Pidi Baiq. Dan di Ngadu Ide #8 kali ini selain dia dihadapkan pada para peserta Teras Ide, untuk mengetes bagaimana ide usaha mereka, dia juga membeberkan beberapa rahasianya.
    Ngadu Ide sendiri merupakan singkatan dari “Ngobrol Asik Dunia Usaha dan Ide”, dan selalu diadakan pada hari Jumat pertama di setiap bulan. Event ini diselenggarakan sebagai ajang berkumpulnya para pengusaha ataupun calon pengusaha dalam suasana yang santai. Di sana mereka dapat berkenalan dan memperlebar jaringan, berkonsultasi, atau bahkan sekedar menambah pengetahuan mengenai usaha atau ide baru di Teras Ide.
    Di Teras Ide disediakan suatu ruang bagi siapa pun yang ingin menunjukan usaha atau pun ide yang dimilikinya. Para peserta Teras Ide di Ngadu Ide #8 ini, antara lain: Ayam Bakar Samara, DC Products, Demi Ucok, Doktor Promo, Nonton or Not, Petakita, Ranginang Rasa, Terminal Koffie, dll. Mereka inilah yang kemudian berpresentasi pada para pengunjung sambil juga dikomentari oleh Pidi Baiq.
    Secara keseluruhan komentar Pidi terhadap para peserta Teras Ide adalah keren. Menurutnya yang penting itu adalah memulai. “Semua juga berawal dari 0 kemudian 1, 2, 3 dan seterusnya” ujarnya, “ Kalau kita tidak mulai menghitung kita tidak akan mulai”.
    Lebih lanjut Pidi mengungkapkan bahwa menjadi kreatif itu sederhana. Tapi kita seringkali terlalu membuatnya rumit dengan berbagai persoalan teknis. Baginya yang penting adalah mengerjakan saja dulu.
    “Mick Jagger (vokalis Rolling Stones, red.) itu tidak tahu apa-apa tapi bisa merubah dunia, apa artinya jika bandingkan dengan guru yang banyak tahu tapi tidak dapat mengubah apa-apa” cetusnya.
    Pidi tidak bermaksud menyinggung profesi guru. Dia hanya mengambil contoh suatu profesi yang memiliki banyak pengetahuan ketimbang Mick Jagger yang tidak tahu apa-apa. Dia menekankan agar kita melakukan segala sesuatu karena stimulus dari dalam, bukan stimulus luar seperti halnya uang.
    “Uang akan nyamperin, kawan juga, itu karena kualitas karyamu. Uang adalah efek kehebatan diri. Tapi karena uang yang selalu didahulukan segalanya jadi ribet” jelasnya.
    Pada satu sesi tadinya Pidi akan menghibur para pengunjung dengan membawakan sebuah lagu. Tapi karena gitarnya tidak beres suaranya, dia jadi urung melakukannya. Sambil bersoloroh dia menyangka ada seseorang yang sengaja mengubah stem-an gitarnya sebelum dia mengambilnya. Akhirnya, Pidi pun kembali “berdakwah”.
    Rahasia yang diungkapkan Pidi pada Ngadu Ide #8 kali ini adalah bagaimana dia mendapatkan uang. “Banyak yang tidak tahu kalau saya mendesain kaos,” katanya. ”Tapi desain itu saya jual ke luar negeri. Dari buku yang saya tulis juga saya mendapatkan uang”
    Mengenai proses penerbitannya Pidi bercerita dia mendatangi penerbit dan berkata: “Terbitin atau kalau tidak saya musuhi” candanya. “Mereka bilang 2500 saja dulu ya. OK kata saya, tapi ternyata dalam seminggu juga sudah habis. Mereka tidak tahu itu karena saya sudah meng-calling saudara-saudara saya”. Disambut tawa seluruh pengunjung.
    Selain itu Pidi sering melakukan konser bersama The Panas Dalam dan sering juga diundang sebagai pembicara meskipun dia mengaku selalu tidak mengetahui temanya. Baginya semua menjadi ribet kalau dibuat terlalu serius, dan hidup baginya adalah bermain-main. “Tanpa ada anak nakal, reuni sekolah tidak akan rame” ujarnya.
    “Jika ditanya oleh malaikat nanti di alam kubur, dan memberikan jawaban yang salah. Malaikat itu akan saling bertanya, ‘Eh dia itu bercanda atau serius?’ ” candanya.
    Bersama The Panas Dalam Pidi sering diundang untuk tampil di TV. Tapi dia menolak dengan mengatakan bahwa dia tidak ingin masuk TV, tapi ingin masuk surga. Dengan suatu perumpamaan dia memberikan alasan bahwa, “Samudra itu luas, tapi kalau kami ikan dari empang, tempat kami bukan di lautan”.
    Satu hal lagi Pidi juga tergabung dengan grup parodi P-Project. Dia sering memberikan berbagai gagasan pada mereka, dan itu pun menjadi suatu penghasilan.  “Dari ide dan gagasan aku jadi banyak uang” ucapnya.
    Lalu dari mana ide dan gagasan itu datang? Sederhana sekali. Pidi menjelaskan bahwa ide dan gagasan akan lahir jika kita berpikir out of the box atau dalam istilahnya sekedar membelokkan pikiran kita. Dan apapun yang datang dari stimulus dalam akan selalu kreatif juga orisinal.   
    Sebagai penutup Pidi menyimpulkan bahwa semua usaha dan ide yang dimiliki para peserta Teras Ide ataupun yang lainnya sudah baik, dan semuanya akan menunggu perbaikan. Terus-menerus akan dievaluasi. Namun baginya yang penting adalah bukan berhasil atau tidak, tapi mau mulai melakukannya.
    Berkat Pidi banyak tawa yang membahana sepanjang acara Ngadu Ide #8 kali ini. Tapi bukan itu saja pengalaman yang kita bawa pulang, lebih lanjut siapapun akan terinspirasi dan termotivasi oleh pemikiran-pemikiranya. Agar tidak mengutamakan uang dan menjadikan stimulus dalam sebagai modal. Agar suatu hari nanti kita juga bisa berkata bahwa “Dari ide dan gagasan aku jadi banyak uang”.

    Moal Bebeja: Pesta Pengusaha Muda Bandung


    Bandung- Menyenangkan sekali bagaimana sebuah kantor pemerintahan bisa menjadi sebuah ruang publik yang penuh dengan kreativitas anak muda. Itulah yang terjadi selama akhir pekan, 2-3 Juni 2012, lalu di pelataran Gedung Sate. Nama acara itu adalah “Moal Bebeja” yang diselenggarakan oleh Myoyeah. Sebuah pesta anak muda yang punya usaha.
    Lebih dari 250 unit usaha dalam bidang kuliner, fesyen, dan industri kreatif lainnya berpartisipasi dalam “Moal Bebeja”. Ditambah lagi dengan dengan tiga panggung yang diisi oleh puluhan band dan DJ, juga workshop serta talkshow seputar dunia usaha. Karenanya masyarakat Bandung pun tumpah ruah selama penyelenggaran “Moal Bebeja” tersebut.
    Myoyeah sendiri merupakan suatu wadah bertemunya anak muda Indonesia dan berbagai komunitas untuk mengapresiasi karya dan wirausaha, baik secara online maupun offline. Selain itu, Myoyeah dengan myoyeah.com-nya diharapkan bisa menjadi pencetak usahawan muda dan sebagai akses bagi pengusaha muda untuk berkembang.
    Karena itu juga dalam event “Moal Bebeja” ini diadakan banyak kegiatan seperti #boekaboekaan sebagai tempat berbagi tips usaha dan diskusi usahawan muda, #subterrestial forum kewirausahawan dalam musik, #moduloesaha sebagai panduan sistematis yang mudah untuk memulai usaha, dan lain sebagainya.
    Sementara itu ada juga #infooesaha di mana para pengusaha dapat berkonsultasi mengenai banyak hal, seperti Haki (Hak Kekayaan Intelektual), sertifikasi halal, ekspor-impor, permodalan, dan lainnya. Khusus untuk #infooesaha ini disediakan sebuah deretan meja yang siapa saja dapat mendatanginya secara gratis.
    Bukan hanya itu acara yang antara lain didukung oleh Pemprov Jabar dan Kadin Jabar ini juga menantang para pejabat untuk menjadi pengusaha. Seperti yang terjadi pada hari Minggu, 3 Juni 2012, ketika Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf ikut berjualan.
    Di hari yang sama diadakan juga peluncuran BikeBandung oleh Bandung Creative Community Forum (BCCF). Hal ini menjadikan Bandung sebagai kota pertama di Indonesia yang akan memiliki jasa penyewaan sepeda sebagai salah satu alternatif transportasi kota. Selain BCCF banyak komunitas lain yang turut serta dalam “Moal Bebeja”, seperti The Panas Dalam Serikat dan Ngadu Ide.
    Kemudian sebagai pengisi di panggung utama yang terletak persis di depan pintu masuk Gedung Sate hadir Pure Saturday pada hari Sabtu, dan Tulus pada hari Minggu. Band lainnya seperti Cascade, The Milo, serta yang lainnya ikut tampil juga disana.
    “Moal Bebeja” sendiri diambil dari bahasa Sunda yang artinya tidak akan bilang-bilang. Meski pada kenyataannya banyak hal dipaparkan pada acara ini. Dan yang mengasyikan lagi dalam acara seperti ini adalah bukan profit semata yang bisa kita dapatkan, tapi interaksi, apresiasi, jaringan, dan inspirasi, baik di antara sesama pengusaha maupun dengan pengunjung. Hal semacam itulah yang justru lebih utama dibanding sekedar keuntungan dari harga nilai jual.
    Lalu dari sana usaha pun berkembang, semangat pun bertambah, dan semakin banyak lagi anak muda yang terjun ke dalam dunia usaha. Kiranya itulah yang utama agar anak-anak muda Indonesia memiliki produktivitas yang tinggi baik di tingkat nasional maupun internasional. Sebuah usaha serius yang lewat event “Moal Bebeja” ini dijalankan dengan cara yang asyik dan menyenangkan.

    NGADU IDE #3 Membicarakan Passion


    Bandung- Seperti biasa Jumat malam pertama di setiap bulan adalah waktunya NGADU IDE (Ngobrol Asik Dunia Usaha & Ide). Kali ini di NGADU IDE #10 mengangkat tema Passion Dalam Bisnis. Untuk itu, acara yang diselenggarakan mulai pukul 19.00 WIB pada 6 Juli 2012 di Boemi Nini (BCCF Simpul Space #2), Purnawarman ini mengundang Ujang Koswara dan Deddy Dahlan sebagai pembicara.
    Ujang Koswara yang tergabung di The Panas Dalam Institute adalah seorang mantan PNS yang mengikuti passion-nya untuk menjadi seorang inventor. Berkat berbagai karyanya, Kang Ujang sudah sering malang melintang ke berbagai daerah di Indonesia. Di setiap daerah itu dia datang dengan membawa solusi. Salah satu contohnya adalah LIMAR (Listrik Mandiri untuk Rakyat). Dengan LIMAR dia bersama The Panas Dalam Institute menjadi solusi bagi daerah yang selama ini belum mendapatkan penerangan.



    Sementara itu Deddy Dahlan adalah pendiri Passion Academy. Sebuah sekolah bebas yang dimaksudkan agar para siswa/i-nya dapat menemukan atau mengikuti passion-nya. Selain itu Deddy Dahlan yang lulusan Seni Rupa ITB juga merupakan penulis buku best seller yang berjudul “Passion”. Kang Deddy memang memiliki passion dalam bidang pendidikan, walaupun begitu dia tidak meninggalkan latar belakangnya sebagai desainer, dan bahkan dia memiliki studio komiknya sendiri.
    Selain kedua pembicara tadi, NGADU IDE #10 menampilkan juga para pengusaha yang ingin menunjukan karya/produk/event/usahanya dalam sebuah mini eksibisi bernama Teras Ide. Di sana para pengusaha atau insan kreatif bisa mendapatkan respon langsung dari pengunjung. Selain itu berbagai interaksi lain terjadi, baik antara sesama pengusaha, maupun calon pengusaha. Para peserta Teras Ide di NGADU IDE #10 kali ini di antaranya adalah X-Bargo Design Studio yang menawarkan banyak paket untuk desain logo, lalu ada juga Pathfinder Career Consulting yang menawarkan jasa konsultasi potensi diri, kemudian ada juga Young Leaders Talk yang merupakan sebuah komunitas mengenai kepemimpinan, dan masih banyak lagi.

    Membuka obrolan bersama para nara sumber NGADU IDE #10 yang dipandu oleh Ben Wirawan dari Mahanagari, Kang Deddy mengutarakan bahwa passion itu berbeda dengan semangat atau hobi. “Ada orang yang semangat bekerja dari pagi hingga malam, tapi dirinya merasa tidak puas. Itu bukan passion. Ada orang yang bekerja di suatu tempat bertahun-tahun, tapi setiap kali ditanya dia merasa dirinya selalu ingin pindah pekerjaan,” ujar Kang Deddy memberi contoh.
    Passion yang sebenarnya, tentu saja dapat kita pahami lebih dalam jika kita membaca bukunya Kang Deddy. Tapi yang jelas karena itu juga dia mendirikan Passion Academy, agar setiap orang dapat mengetahui apa sebenarnya passion dirinya.

    Banyak kendala yang akan kita hadapi dalam menemukan atau menjalankan passion kita. Bahkan orang terdekat kita seperti orang tua ataupun keluarga bisa jadi tidak memahami apa passion kita, hal itu bahkan dialami sendiri oleh Kang Deddy. Tapi itu tidak membuatnya berhenti, dan seharusnya tidak membuat siapapun juga berhenti.
    Lebih lanjut Kang Ujang juga menuturkan pengalamannya,  menurutnya seorang pengusaha itu bukan seorang pengambil resiko, “Tapi kita harus bisa mengendalikan resiko. Karena semua itu sebenarnya dapat kita ukur.”

    Dia juga berprinsip bahwa setiap orang seharusnya tidak bercita-cita tinggi untuk menjadi pemimpin perusahaan, tapi yang penting adalah terus berkarya dan berguna bagi orang banyak. Sementara itu mengenai rasa takut yang bisa dihadapi setiap orang dalam menjalankan passion-nya Kang Ujang menjawab bahwa rasa takut itu sebaiknya mengalir saja.
    “Rasa takut itu tidak usah terlalu dipikirkan, tapi dijalani saja. Karena itu dalam melakukan sesuatu kita jangan tangung-tanggung. Kalau kita ingin menciptakan sesuatu yang unik, buatlah seunik-uniknya. Yang penting adalah kita harus memiliki market-nya. Sebagus apapun produk kita jika kita tidak memiliki atau mengetahui market-nya maka produk itu akan gagal,” papar Kang Ujang.
    Memang, passion seperti juga bisnis tidak memiliki suatu rumus pasti. Setiap orang harus membuat formulanya sendiri agar berhasil, dan pastinya setiap orang juga dituntut untuk konsisten dalam menjalankannya. Dalam obrolan yang berlanjut sepanjang malam itu, Kang Ujang berkali-kali membuktikan passion-nya agar terus dapat bermanfaat bagi orang banyak. Sementara itu Kang Deddy juga menunjukan bahwa keberhasilan dalam kehidupan akan dimulai dari keberhasilan kita menemukan juga menjalankan passion dalam diri kita.  
    Jadi, selamat berjuang kawan, jangan pernah menyerah dengan passion yang kita miliki. Sementara itu sampai jumpa di NGADU IDE selanjutnya di bulan Agustus mendatang. Salam NGADU IDE! (*)

    Ngadu Ide #2: Modal Utama dalam Usaha


    Bandung - Acara talkshow yang membahas wirausaha dan ide kreativitasnya Ngadu Ide (Ngobrol Asyik Dunia Usaha) kembali diadakan untuk ketiga kalinya. Event talkshow yang digelar secara regular ini bertempat di Boemi Nini, Jalan Purnawarman No 70 Bandung pada Jum’at malam (2/12) lalu. Untuk Ngadu Ide kali ini menghadirkan narasumber yang sudah berpengalaman dibidangnya yaitu Perry Tristianto (pemilik sejumlah Factory Outlet di Bandung) dan Sutan Siregar (Lembaga Pembiayaan Tekno Modal Ventura). Pembahasan Ngadu Ide #3 ini lebih membahas tentang modal dalam memulai sebuah usaha.
    Acara yang dipandu oleh moderator Ben Wirawan (pendiri clothing Mahanagari) berlangsung sangat menarik. Para narasumber dengan antusias menceritakan pengalaman serunya masing-masing di hadapan puluhan anak muda yang memadati Boemi Nini malam itu. Dalam acara sharing para narasumber membongkar kunci kesuksesannya dan modal utama ketika memulai usaha. Perry Tristanto membeberkan rahasia dan pengalamannya dalam usaha hingga kini memiliki berbagai factory outlet (FO) yang tersebar di Bandung seperti The Secret, The Summit, Formen, Rich & Famous, dan masih banyak lagi bidang usaha lainnya. Atas prestasinya, Perry pun kerap dikenal sebagai Raja FO Bandung. Sementara pembicara kedua, Sutan Siregar dari Tekno Modal Ventura membeberkan soal pengalamannya di bidang permodalan. 
        
    Acara yang dimulai sekitar pukul delapan malam ini dimulai dengan pengalaman Perry yang bercerita soal awal mulanya memulai usaha. Ia pertama kali memulai usaha di pinggir jalan sebelum mulai mendirikan FO setelah perusahaan rekaman tempatnya bekerja ditutup akibat maraknya pembajakan.  
        
    “Dulu awalnya saya jualan kaus di pinggir jalan, karena jaringan saya dulunya adalah toko kaset, maka terpikir untuk menjual pakaian di toko kaset. Karena selama ini jual pakaian kan di toko pakaian, saya berusaha menciptakan pasar yang baru dan berbeda,” ujar Perry yang merupakan alumnus Stanford College Singapura. 
        
    Perry menuturkan ada beberapa modal penting dalam memulai usaha selain modal yang bersifat materi seperti uang atau bangunan. Menurutnya, modal paling penting yang harus dimiliki yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) dan jaringan (network). Dua hal itu menjadi fondasi penting dalam melebarkan usahanya hingga kian membesar. 
        
    “SDM merupakan modal yang tak ternilai karena bersifat pengetahuan dan skill. Untuk itu sebisa mungkin, kita harus memberikan transfer ilmu kepada karyawan-karyawan kita. Jangan takut tersaingi, jadikan mereka partner dan rangkul mereka,” ujar Perry. “Selama saya memulai usaha, jaringan atau networking juga penting. Banyak gaul dan mengamati sekitar apa yang sedang trendi. Bisnis saya besar pun karena itu,” lanjutnya.
    Perry membeberkan bahwa usaha-usahanya semakin melebar mulai dari bidang pakaian, kuliner, hingga wisata karena kemampuannya dalam melakukan jejaring. “Saya bikin Rumah Sosis, emangnya saya bisa bikin sosis? Yah, nggak bisa. Tapi karena saya kenal dengan yang bikin sosis enak, maka saya yang bikin Rumah Sosis sedangkan makanannya dari teman saya yang jago masak sosis,” beber Perry. “Kita harus pintar bagaimana memasarkan produk-produk itu. Intinya sih seperti itu”.
    Sementara itu, Sutan Siregar menjelaskan soal modal dan tetek bengek pinjaman untuk memulai usaha. Menurut Sutan, banyak pengusaha muda yang terlalu sembrono untuk mengajukan pinjaman ke bank atau lembaga pembiayaan. Maka tak aneh lebih banyak yang ditolak. 
        
    “Kalau sampai ditolak nggak mungkin kesalahannya dari bank atau lembaga pemberi modal. Kesalahan itu pasti dari Anda,” ujar pria lulusan ITB Bandung ini. 
        
    Ada beberapa jenis pinjaman yang bisa dilakukan secara bertahap yaitu pinjaman dari kenalan (koneksi), microfinance, venture capital, bank, dan pinjaman Negara atau Ibu Pertiwi. Menurut Sutan ada beberapa hal yang dilihat dari suatu lembaga pembiayaan untuk mencairkan modal kepada peminjam. 
        
    “Yang paling penting kemampuan presentasi. Lembaga Pembiayaan itu kan bakal melihat dulu bagaimana bidang usahanya, seperti apa pasarnya, sejauh mana profitnya. Intinya untuk mengajukan pinjaman ke lembaga pembiayaan maka harus ada pasarnya dan kemudian ada di mana seleranya,” papar Sutan yang sudah malang melintang bekerja di pelbagai bank dan lembaga pembiayaan. 
        
    Jaringan juga merupakan modal yang paling penting ketika mengajukan pinjaman. Jaringan yang luas akan memudahkan pencairan modal, apalagi sudah berjejaring dengan investor-investor yang memang sudah dikenal oleh masyarakat luas. 
        
    “Modal yang tak boleh dilupakan juga yaitu jaringan. Sudah sejauh mana kita berjejaring dan berkomunikasi dengan pihak-pihak lainnya. Apakah terpercaya atau tidak. Makanya kita sebisa mungkin siapkan surat-surat kontrak yang ada dan laporan keuangan untuk berkomunikasi dengan investor. Soal mengajukan pinjaman itu hanya masalah kepercayaan saja kok,” ujar Sutan. 
        
    Pada poin terakhir Perry membeberkan beberapa kiat dalam memulai usahanya. Menumbuhkan semangat wirausaha dan membuka wawasan baru adalah hal yang tak boleh dilupakan. Jiwa atau semangat dalam berwirausaha merupakan modal utama yang perlu ditanamkan terlebih dahulu untuk memulai usaha. 
        
    “Wirausaha itu jiwa. Untuk itu kita harus peka dalam menumbuhkan brand. Diantaranya dengan terbuka pada informasi yang baru. Kemudian service atau pelayanan kita sebagai pengusaha juga penting dan harus ditingkatkan. Intinya selagi muda, do something dan mulai berkarya, dan jangan lupa untuk memperbanyak wawasan,” ujar Perry memberikan beberapa kiat pentingnya dalam berwirausaha. 

    Ngadu Ide #1 ; Sociopreneur : Berbisnis sambil Beramal


    Bandung - Menjadi wirausahawan tidak harus melulu berorientasi utama pada profit dan mengabaikan sisi manusianya, tapi bisa juga jadi lebih berfokus pada pengembangan kondisi sosial masyarakat yang menjadi target pasar, atau mereka biasa disebut sociopreneur.



    Menanggapi keberadaannya di tengah perkembangan ekonomi, maka tema itulah yang diangkat oleh tim Ngadu Ide untuk kegiatan bulanannya yang sudah menginjak kali ke-6.

    Dengan tajuk ‘Social Enterprise’, di tanggal 2 Maret,  ini panitia menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Goris Mustaqim (@GorisMustaqim) dari Asgar Muda, dan Zaini Alif (@ZainiAlif) dari Komunitas Hong.

    Seperti acara Ngadu Ide #2 , Ngadu Ide #3 , dan Ngadu ide # 5 kegiatan yang diadakan di salah satu ruang publik di Jl.Purnawarman 70 ini menarik minat banyak pihak, dari mulai pebisnis senior, pelaku usaha yang baru start-up, sampai orang-orang yang masih mencari ide untuk diwujudkan. Mereka semua difasilitasi untuk saling berinteraksi dan berkolaborasi melalui beberapa segmen dari acara tersebut, yaitu Teras Ide, Unjuk Kabisa, Unjuk Ide, dan Talkshow.

    Teras Ide, sebuah mini eksibisi, kali itu diisi oleh 15 tenants dari bidang usaha yang sangat beragam, dari mulai jasa pembuatan video, konsultasi properti dan keuangan, kopi luwak, croissant, majalah, ornamen fashion seperti tas, sepatu handmade, kaos yang mengkampanyekan isu lingkungan, hingga jam digital unik untuk interior rumah.

    Sedangkan di Unjuk Kabisa, ditampilkanlah sebuah film pendek berjudul “Jupe” yang dilanjutkan langsung dengan diskusi singkat bersama pembuatnya, yaitu rumah produksi bernama Kepompong Gendut.

    Kemudian di segmen Unjuk Ide, 5 tenants diberi kesempatan untuk mempresentasikan produk mereka di area utama yang mendukung pemutaran video dan slide.

    Adalah film ‘Demi Ucok’ yang membuka sesi ini dengan pemutaran trailer-nya. Mereka rupanya sedang mencari 10.000 co-producer dengan kontribusi sebesar Rp.100.000/orang agar terkumpul dana untuk proses kinetransfer digital ke seluloid sehingga bisa tayang di bioskop nasional.

    Disusul kemudian oleh kopi Menak, Amphibi Studio, Kirana Art, dan yang terakhir adalah Dream Indonesia Corp. Barulah setelah itu agenda utama dimulai, yaitu talkshow yang dipandu oleh Ben Wirawan dari Mahanagari.

    Sesi yang ditunggu-tunggu ini diawali dengan membahas latar belakang dari usaha yang dijalankan. Baik Goris maupun Zaini mengaku semua dimulai dari concern mereka melihat keadaan.

    Goris yang memang putra daerah Garut, sadar betul akan potensi tanah kelahirannya yang sangat kaya itu, terlebih dari gunung hingga lautan pun ada disana.

    Namun seperti halnya mayoritas daerah di Indonesia, semua tidak tereksplor secara maksimal karena desentralisasi pembangunan di Jakarta.

    Maka selepas mengenyam pendidikan di jurusan teknik sipil Institut Teknologi Bandung, kembalilah dia ke Garut untuk mengabdi dan memberdayakan masyarakatnya.


    Berdiri tahun 2007, Asgar Muda masih konsisten dengan beberapa programnya, yaitu pembinaan pengrajin dan petani akar wangi, Super Camp (sebuah program persiapan para siswa untuk ke perguruan tinggi), rumah belajar dengan fasilitas komputer dan perpustakaan, hingga kegiatan-kegiatan untuk mendorong kewirausahaan.

    “Jika Soekarno pernah bilang, ‘Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia’, buat saya, ‘Beri aku 10 pemuda, maka akan kubangun 10 daerah!”, tegasnya dengan semangat dan wajah berbinar.

    Tidak begitu jauh berbeda dengan Goris, Zaini pun ingin memberdayakan kekayaan daerah yang dimiliki. Melalui mainan tradisional, selain melestarikan ragam budaya bangsa dan membangun mental manusianya dengan cara bermain, ternyata dengan adanya komunitas Hong, masyarakat pun terbantu secara ekonomi.

    Berdiri sejak 2003, komunitas ini kini dikenal secara luas hingga mancanegara. Para wisatawan asing sering berkunjungke markasnya di Jl. Bukit Pakar Utara, Dago, Bandung, untuk melihat dan mencoba langsung beberapa mainan dari total ratusan yang dimiliki.

    Maka selain keuntungan berupa materi dari penjualan tiket masuk ataupun souvenir mainan buatan tangan, secara tidak langsung, anggota komunitas dan penduduk sekitarpun mengalami pembangunan karakter. Mereka bisa berinteraksi dengan orang dari berbagai negara, bertambahnya kepercayaan diri, dan berlatih public speaking.


    Untuk jangka menengah, visi Zaini adalah ingin memberikan hadiah istimewa di hari jadi Indonesia ke-100. “Kita mungkin belajar motor ke Jepang, mobil ke Jerman, atau apapun ke Amerika. Tapi, jika ingin belajar mainan tradisional, mereka (orang-orang asing) akan datang ke Indonesia”, ujarnya di akhir talkshow.

    Kedua sosok di atas kiranya memberi kita sedikit gambaran bagaimana aspek ekonomi dan sosial bisa saling bersinergi untuk mencapai tujuan ber-socio-preneurship, yaitu; grow intellectually, secure financially, and give impact socially.

    Sampai jumpa di Ngadu Ide selanjutnya!