Strategi jualan Kaos Distro 2012

MuDAers pasti pernah ke distro dong? Meski hanya sesekali, barang-barang di distro masih dicari lho. Kalo anak cowok, biasanya ke distro untuk mencari kaus oblong yang unik-unik.

Pada awal tahun 2000-an, distro menjamur di mana-mana, baik di Bandung, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya. Enggak ke distro, enggak gaul deh.
Seiring berjalannya waktu, jumlah distro semakin banyak dan baju-baju bikinan luar negeri dengan merek besar semakin menyerbu pasaran. Ancaman lain yang dihadapi distro adalah banyaknya toko besar yang mempunyai nama, tapi menjual kaus dengan label distro. Padahal, yang dijual di toko besar diproduksi sampai ribuan jumlahnya. Sedangkan distro biasanya hanya memproduksi 60-200 kaus setiap desain. Makanya, pengelola distro harus lebih kreatif memproduksi berbagai jenis produknya. Biar enggak pasaran.
”Paling enggak sebulan sekali kami ke sini, mencari model yang baru,” kata Fachry, yang datang dari Depok yang siang itu bolak-balik menyusuri Jalan Tebet Utara. Dia mencari oblong di jejeran distro di jalan itu.
”Sebenarnya lebih bagus sih di Bandung, tapi kan kejauhan. Jadi seringnya ke sini,” katanya.
Bukan hanya cowok yang kerap mencari baju ke distro. Dewi Ekasari yang tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jaksel, juga sering menyambangi distro di Tebet. Meski tidak berniat membeli, Dewi paling tidak dua minggu sekali mengunjungi distro hanya untuk melihat model-model terbaru.

”Dekat dengan rumah, sekali naik bus sudah sampai ke sini. Kalau pas ada yang cocok, saya sih pasti beli,” ujar Dewi.
Strategi jualan
Untuk bertahan di bisnis distro enggak mudah lho MuDaers. Mesti kreatif jualan juga. Kini, distro enggak cuma ngejual barang dagangan di tokonya saja. Gaya belanja masa kini dengan sistem online juga dilakukan distro. Lagian, pembeli lebih suka menggunakan jasa belanja online ini.
”Sekarang kadang-kadang orang malas pergi ke toko, mendingan buka internet, terus belanja. Banyak pelanggan kami yang belanja online , baik di Jakarta atau luar daerah. Bahkan, ada yang dari luar negeri,” ungkap Public Relation PT Endorsindo Makmur Selaras Frissy Bella Apriditha alias Sissy.
PT Endorsindo mempunyai tiga toko, yaitu Bloop, Endorse, dan Urbie. Untuk setiap desain akan dibuat sebanyak 60 unit. Produk kaus dibanderol dengan harga Rp 95.000-Rp 130.000. Dalam sehari, setiap distro bisa menjual sekitar 100 kaus.
”Kalau modelnya lagi banyak disuka pembeli, dalam waktu satu sampai dua minggu sudah habis. Seperti kaus yang bergambar Bagus Netral, cepat sekali habisnya,” kata Sissy.
Strategi lainnya, Bloop dan Endorse juga menggandeng artis-artis untuk desain-desain baju. Selain Bagus Netral dengan kausnya yang unik, ada juga Widi Kidiw (Viera) dan Naif. Selain itu, juga adablogger fashion Diana Rikasari yang mendesain baju-bajunya sendiri untuk dijual di distro Endorse.
Minat muDAers dengan barang-barang di distro yang tetap besar juga terbukti di Unit 67, distro yang baru buka enam bulan lalu. Distro ini menjual kaus-kaus bertema band-band underground dan mengkhususkan pada merchandise musik. Pemilik Unit 67, Bani Terasyailendra, mengungkapkan, dalam satu bulan bisa menjual 30-35 kaus.
”Bulan pertama sampai ketiga belum terlihat penjualannya, semakin lama semakin naik grafiknya. Omzet penjualan bisa sampai 80 persen. Pembelinya anak-anak muda yang memang ngefans dengan band-band aliran punk, metal,” ujar Terasyailendra.
Penjualan yang tinggi membuat stok Bani sudah habis. ”Hanya tinggal barang yang di- display saja. Kalau mereka penggemar fanatik pasti akan membeli jika ada kaus baru,” cerita dia.
Begitu pula distro yang terletak di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat. Dengan lokasi yang strategis, distro ORK 689 banyak diminati kaum muda. Barang-barang yang ditawarkan juga lebih variatif. ”Sebagian besar barang di sini buatan kami sendiri. Seperti tas, baju, dan sandal jepit merupakan kreativitas kami,” kata Heri yang menjaga ORK 689.
Nah, intinya, siapa berani kreatif dan unik pasti banyak dicari.... (SIE/BEE)
 Kreativitas Nomor Satu!
Distro singkatan dari distribution store atau distribution outlet yang menjual pakaian dan aksesori produk lokal. Kebanyakan barang yang dijual adalah kaus oblong dengan berbagai model dan desain. Ada beberapa macam cara mengisi distro. Ada yang mengisinya dengan produk sendiri, ada pula dengan mengambil barang dari tempat lain. Sebagian besar distro merupakan industri kecil dan menengah.
Apa pun caranya, yang pasti barang yang dijual di distro terbatas alias limited edition untuk memberikan kesan eksklusif. Desainnya pun dibuat eksklusif. Untuk satu desain baju, distro hanya membuat sekitar 60-200 unit. Desain yang eksklusif dan terbatas membuat distro harus terus menggali potensi kreatif dari para krunya. Tidak jarang, mereka juga menyewa desainer paruh waktu.
Pada awal tahun 2000-an di Bandung, band-band independen menjual pernak-pernik seperti kaset, cakram padat, kaus, dan stiker kepada penggemarnya. Pernak-pernik itu dijual bukan hanya ketika mereka manggung, tetapi juga di rumah-rumah yang disulap menjadi toko. Berawal dari situlah distro menjadi semakin terkenal. Kreativitas, merek independen, harga terjangkau, kemudian muncullah distro.
Dari sisi kualitas, produk yang ditawarkan di distro enggak kalah dibanding merek luar negeri. Mulai dari baju, kaus, tas, aksesori, sampai sandal dan sepatu, banyak memiliki keunikan masing-masing. Apalagi, diproduksi dengan jumlah terbatas, jadi modelnya enggak pasaran.
Penampilan distro juga dibuat semenarik dan senyaman mungkin bagi pengunjungnya. Penataan barang dibuat seapik mungkin. Dari penampilan tokonya terlihat, distro bukan sekadar menjual barang, tetapi juga mengedepankan kepuasan konsumennya. (SIE)

Distro, Tambah Unik, Semakin Dicari


MuDAers pasti pernah ke distro dong? Meski hanya sesekali, barang-barang di distro masih dicari lho. Kalo anak cowok, biasanya ke distro untuk mencari kaus oblong yang unik-unik.
Pada awal tahun 2000-an, distro menjamur di mana-mana, baik di Bandung, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya. Enggak ke distro, enggak gaul deh.

Seiring berjalannya waktu, jumlah distro semakin banyak dan baju-baju bikinan luar negeri dengan merek besar semakin menyerbu pasaran. Ancaman lain yang dihadapi distro adalah banyaknya toko besar yang mempunyai nama, tapi menjual kaus dengan label distro. Padahal, yang dijual di toko besar diproduksi sampai ribuan jumlahnya. Sedangkan distro biasanya hanya memproduksi 60-200 kaus setiap desain. Makanya, pengelola distro harus lebih kreatif memproduksi berbagai jenis produknya. Biar enggak pasaran.
”Paling enggak sebulan sekali kami ke sini, mencari model yang baru,” kata Fachry, yang datang dari Depok yang siang itu bolak-balik menyusuri Jalan Tebet Utara. Dia mencari oblong di jejeran distro di jalan itu.
”Sebenarnya lebih bagus sih di Bandung, tapi kan kejauhan. Jadi seringnya ke sini,” katanya.
Bukan hanya cowok yang kerap mencari baju ke distro. Dewi Ekasari yang tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jaksel, juga sering menyambangi distro di Tebet. Meski tidak berniat membeli, Dewi paling tidak dua minggu sekali mengunjungi distro hanya untuk melihat model-model terbaru.
”Dekat dengan rumah, sekali naik bus sudah sampai ke sini. Kalau pas ada yang cocok, saya sih pasti beli,” ujar Dewi.
Strategi jualan
Untuk bertahan di bisnis distro enggak mudah lho MuDaers. Mesti kreatif jualan juga. Kini, distro enggak cuma ngejual barang dagangan di tokonya saja. Gaya belanja masa kini dengan sistem online juga dilakukan distro. Lagian, pembeli lebih suka menggunakan jasa belanja online ini.
”Sekarang kadang-kadang orang malas pergi ke toko, mendingan buka internet, terus belanja. Banyak pelanggan kami yang belanja online , baik di Jakarta atau luar daerah. Bahkan, ada yang dari luar negeri,” ungkap Public Relation PT Endorsindo Makmur Selaras Frissy Bella Apriditha alias Sissy.
PT Endorsindo mempunyai tiga toko, yaitu Bloop, Endorse, dan Urbie. Untuk setiap desain akan dibuat sebanyak 60 unit. Produk kaus dibanderol dengan harga Rp 95.000-Rp 130.000. Dalam sehari, setiap distro bisa menjual sekitar 100 kaus.
”Kalau modelnya lagi banyak disuka pembeli, dalam waktu satu sampai dua minggu sudah habis. Seperti kaus yang bergambar Bagus Netral, cepat sekali habisnya,” kata Sissy.
Strategi lainnya, Bloop dan Endorse juga menggandeng artis-artis untuk desain-desain baju. Selain Bagus Netral dengan kausnya yang unik, ada juga Widi Kidiw (Viera) dan Naif. Selain itu, juga adablogger fashion Diana Rikasari yang mendesain baju-bajunya sendiri untuk dijual di distro Endorse.
Minat muDAers dengan barang-barang di distro yang tetap besar juga terbukti di Unit 67, distro yang baru buka enam bulan lalu. Distro ini menjual kaus-kaus bertema band-band underground dan mengkhususkan pada merchandise musik. Pemilik Unit 67, Bani Terasyailendra, mengungkapkan, dalam satu bulan bisa menjual 30-35 kaus.
”Bulan pertama sampai ketiga belum terlihat penjualannya, semakin lama semakin naik grafiknya. Omzet penjualan bisa sampai 80 persen. Pembelinya anak-anak muda yang memang ngefans dengan band-band aliran punk, metal,” ujar Terasyailendra.
Penjualan yang tinggi membuat stok Bani sudah habis. ”Hanya tinggal barang yang di- display saja. Kalau mereka penggemar fanatik pasti akan membeli jika ada kaus baru,” cerita dia.
Begitu pula distro yang terletak di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat. Dengan lokasi yang strategis, distro ORK 689 banyak diminati kaum muda. Barang-barang yang ditawarkan juga lebih variatif. ”Sebagian besar barang di sini buatan kami sendiri. Seperti tas, baju, dan sandal jepit merupakan kreativitas kami,” kata Heri yang menjaga ORK 689.
Nah, intinya, siapa berani kreatif dan unik pasti banyak dicari.... (SIE/BEE)
 Kreativitas Nomor Satu!
Distro singkatan dari distribution store atau distribution outlet yang menjual pakaian dan aksesori produk lokal. Kebanyakan barang yang dijual adalah kaus oblong dengan berbagai model dan desain. Ada beberapa macam cara mengisi distro. Ada yang mengisinya dengan produk sendiri, ada pula dengan mengambil barang dari tempat lain. Sebagian besar distro merupakan industri kecil dan menengah.
Apa pun caranya, yang pasti barang yang dijual di distro terbatas alias limited edition untuk memberikan kesan eksklusif. Desainnya pun dibuat eksklusif. Untuk satu desain baju, distro hanya membuat sekitar 60-200 unit. Desain yang eksklusif dan terbatas membuat distro harus terus menggali potensi kreatif dari para krunya. Tidak jarang, mereka juga menyewa desainer paruh waktu.
Pada awal tahun 2000-an di Bandung, band-band independen menjual pernak-pernik seperti kaset, cakram padat, kaus, dan stiker kepada penggemarnya. Pernak-pernik itu dijual bukan hanya ketika mereka manggung, tetapi juga di rumah-rumah yang disulap menjadi toko. Berawal dari situlah distro menjadi semakin terkenal. Kreativitas, merek independen, harga terjangkau, kemudian muncullah distro.
Dari sisi kualitas, produk yang ditawarkan di distro enggak kalah dibanding merek luar negeri. Mulai dari baju, kaus, tas, aksesori, sampai sandal dan sepatu, banyak memiliki keunikan masing-masing. Apalagi, diproduksi dengan jumlah terbatas, jadi modelnya enggak pasaran.
Penampilan distro juga dibuat semenarik dan senyaman mungkin bagi pengunjungnya. Penataan barang dibuat seapik mungkin. Dari penampilan tokonya terlihat, distro bukan sekadar menjual barang, tetapi juga mengedepankan kepuasan konsumennya. (SIE)

Pembajakan Produk Distro Dan Clothing Luar Biasa


Pemilik Distro Airplane dan Ralij Clothing, Fiki Chikara Satari di Bandung, Minggu (21/3/2010), mengatakan, ia pernah kedatangan calon konsumen dari Batam dan meminta potongan harga untuk pembelian dalam jumlah besar. Jika potongan harga tak sesuai keinginan pembeli itu, ia akan membeli produk bajakan.
BANDUNG, KOMPAS.com - Pembajakan produk distro dan clothing di Jawa Barat dianggap sudah luar biasa. Maraknya pembajakan membuat sebagian konsumen memilih produk palsu. Bahkan, beberapa pengusaha distro ditawari untuk memasarkan produk palsu hasil bajakan busana buatan mereka sendiri.
"Saya juga pernah ditawari produk bajakan. Padahal, produk yang dibajak itu aslinya buatan saya. Harga produk distro asli mulai Rp 50.000 per potong," katanya. Di Bandung, terdapat sekitar 1.200 usaha distro dan clothing. Setiap bulan, sekitar 2.000 desain baju, celana, dan sepatu dikeluarkan.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jabar Ferry Sofwan mengatakan, pelaku distro disarankan untuk membuat desain busana dengan masa pakai singkat. Desain baru perlu terus dikeluarkan , sebaiknya setiap satu bulan sekali. Langkah itu diperlukan agar konsumen menganggap desain produk bajakan tidak baru lagi.
"Saya belum menerima laporan tentang tingkat keparahan pembajak

Distro di Bekasi Makin Menjamur Jelang Ramadhan

BEKASI, KOMPAS.com — Menjelang bulan suci Ramadhan 1430 H, usaha penjualan busana melalui distribution store (distro) di Kota Bekasi makin banyak bermunculan dengan segmen pasar dari kelompok muda.

Dedi, pengelola distro "Tajir" di kawasan Perumnas II Kota Bekasi, Selasa (18/8), mengaku baru membuka usaha tersebut sejak awal pekan lalu setelah melihat permintaan cukup besar dari generasi muda.

"Distro yang ada di Bekasi baru ada di beberapa tempat, sementara kecenderungan warga membeli pakaian di distro makin banyak seiring perkembangan model dan gaya hidup," ujarnya. Distro miliknya memasarkan busana dan tas model yang digemari anak muda dalam jumlah hanya satu atau dua unit untuk setiap model hingga menjadi ekslusif.

Barang-barang yang dipasarkan didatangkan Dedi dari pabrikan di Bandung dan untuk menarik minat pembeli, ia berupaya agar harganya bisa sama dengan distro di Bandung. Sejak dibuka, sambutan pembeli cukup bagus dan setiap hari rata-rata terjual lima kaus dan satu tas.

Harga yang dipatok untuk kaus berkisar Rp 50.000 hingga Rp 200.000 tergantung bahan dan kualitas kaus, sedangkan tas mulai Rp 100.000 hingga Rp 500.000. Dedi yakin di bulan Ramadhan permintaan pakaian dan tas meningkat tajam laiknya peningkatan permintaan busana muslim dan busana Lebaran.

Distro lain yang juga muncul di Kota Bekasi adalah "Why not". Reno, pengelola distro yang beralamat di Jalan Agus Salim Kota Bekasi, itu mengatakan, permintaan pakaian distro kini terus mengalami peningkatan.

"Segmen pasarnya makin beragam. Tidak hanya sebatas anak laki-laki belasan tahun, tapi juga wanita dan bahkan pria dewasa," ujarnya.

Agar pakaian yang dipajang cepat terjual, menurut Reno, diperlukan kejelian pengelola dalam memilih barang yang sesuai dengan selera konsumen. "Untuk distro warna hitam lebih disukai dan motif yang dipilih adalah yang unik dengan bahan lembut," ujarnya.

Di Kota Bekasi setidaknya ada 10 distro lainnya, seperti Zigzag Project, Character Distro, Outskirt, DART, Manual Lab, Suicide Anthem, Veynom, dan Chapter.

Cinta Produk Dalam Negeri Lewat Kaos Distro


Aneka kaus lucu warna-warni tergantung di berbagai stan. Ada pula sepatu berbagai model, tas dengan berbagai bentuk hingga celana panjang, celana pendek, jaket dan topi menggoda mata pengunjung yang datang di pameran Exhibition Room 2010 di Solo Diamond Convention Center, Jumat (7/5).
Ada 61 stan yang menawarkan produk distribution outlet atau distribution store (distro) yang meramaikan pameran yang berlangsung hingga Minggu (9/5) di Kota Solo.
Peserta pameran berasal dari Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Malang, dan Solo. Para peserta pameran ini memproduksi sendiri produk sandang (clothing) yang ditawarkan di tiap stan.
Sejak 10 tahun terakhir, distro dengan produksi clothing berbasis industri rumah tangga muncul di mana-mana. Pasarnya mayoritas anak muda yang ingin tampil beda.
"Saya lebih suka ke distro karena koleksinya terbatas, jadi enggak takut ada kembarannya kalau jalan-jalan. Paling sering, saya membeli kaus atau sepatu bot," kata Rirri (16), siswa SMA Negeri 6 Solo, yang tengah mengunjungi pameran tersebut.
Setiap distro, memang biasanya hanya mengeluarkan produk dalam jumlah terbatas yang dibedakan variasi warna dan desainnya. Distro juga harus pintar-pintar membaca selera pasar yang sedang berjalan, terutama menghadapi anak muda yang kerap berubah-ubah keinginannya.
Distro Setia Jaya dari Bandung misalnya, Distro ini mengeluarkan tiga merek, memilih desain untuk perempuan muda usia 15-30 tahun. Setia Jaya, menurut Wandi Surya dari bagian umum, memiliki outlet di Bandung, Yogyakarta, Solo, Purwokerto, Balikpapan, dan Bali dengan jumlah pekerja sekitar 150 orang.
Bicara soal bisnis produk distro ini, dalam beberapa tahun terakhir di Kota Solo perkembangan distro menunjukkan tren pertumbuhan.
Salah satunya Jelly Mint yang baru berdiri beberapa bulan. Pilihannya cukup berani, memproduksi clothing dengan sentuhan motif batik.
"Kain motif batiknya hanya untuk aksen atau kalaupun banyak dipakai, dipilih dari motif batik yang abstrak agar disukai anak muda," kata Cindy dari Jelly Mint.
Ketua Panitia Exhibition Room 2010, Yusriandi, mengatakan, munculnya usaha distro berdampak pada perekonomian, karena menyerap tenaga kerja dan memberdayakan ekonomi lokal.
Kabar gembira lainnya, label lokal produksi distro ternyata mampu menyaingi label impor, seperti Billabong atau Quiksilver.
"Dari segi desain, produk distro tidak kalah dan lebih mengerti selera pasar. Harganya juga cukup bersaing sehingga menumbuhkan minat pada produksi lokal," kata Yusriandi. (eki)

Distro Milik Eka Ramdani Lengang




BANDUNG, KOMPAS.com - Berita hengkangnya mantan kapten Persib, Eka Ramdani, memang mengejutkan banyak pihak hingga muncul kecaman dari bobotoh melalui jejaring sosial. Untuk menghindari dampak yang lebih buruk, distro miliknya juga harus ditutup.
Menurut pantauan Kompas, Selasa (20/9/2011), distro bernama ER8 itu sudah tutup. Pintu toko yang beralamat di Jalan LLRE Martadinata itu tertutup dengan rolling door. Tidak ada aktivitas yang terlihat dari tempat yang biasa menjual produk garmen olahraga yang menggunakan Eka Ramdani selaku ikon di Persib.
Menurut penjaga warung di sebelahnya, Deni, toko tersebut sudah tutup sejak Senin (19/9/2011) atau bertepatan dengan munculnya kabar mengenai kepindahan Eka ke Persisam Samarinda. Dia juga memastikan tidak ada lontaran kekecewaan dari bobotoh yang dilampiaskan kepada distro milik Eka.
Kabar mengenai kepindahan Eka ke Persisam beredar luas pada Senin malam, terlebih lagi muncul gambar yang memperlihatkan dia sedang memegang bendera organisasi suporter Persisam, dan didampingi pelatihnya sekaligus mantan pelatih Persib, Daniel Roekito. 

Politisi Desain Kaus Distro


BANDUNG, KOMPAS.com — Sebanyak 14 tokoh berbagai bidang menyumbangkan desain kaus sebuah merek distro yang berulang tahun ke-14, Selasa (14/2/2012). Kaos akan diedarkan secara terbatas dan sebagian penjualannya disumbangkan.
Beberapa tokoh yang menyumbangkan desain adalah Theresia Pardede atau Tere, Tisna Sanjaya, Tegep Oktaviansyah, dan Tita Larasati.
Mereka tidak mempersiapkan desain dari rumah, tetapi menggarapnya langsung di Simpul Space #2 yang terletak di Jalan Purnawarman, Bandung. Tegep menggunakan desain tengkorak, sementara Tere bermain dengan gaya minimalis, tetapi sarat makna.
Pemilik distro Airplane System, Fiki Satari, mengungkapkan, desain akan dijual sangat terbatas dengan harga jualnya yang lebih tinggi. "Sebagian royaltinya bakal disumbangkan untuk komunitas pendidikan kreatif informal," ujar Fiki.
Fiki berkisah, usahanya sudah dimulai sejak tahun 1998. Dengan perjalanan selama 14 tahun, Airplane System kini memiliki cabang di sejumlah kota besar di Indonesia. Produk lokal ini sudah tersebar juga di tangan konsumen di Singapura, Malaysia, dan Perancis.

ANTARA BISNIS BAKSO DAN BISNIS KONTRAKAN


Di dalam memulai suatu bisnis kadang kita hanya menghitung berapa keuntungan yang akan kita dapat, maka dihitunglah seluruh pengeluaran dan seluruh pemasukan dan sisanya akan menjadi keuntungan atau kerugian.
Sehingga apabila kita yang mulai dapat tawaran berbisnis selalu menghitung dari segi untung dan rugi saja.
Apakah rekan-rekan memperhitungkan sebuah kesempatan itu ‘Loss atau Cost’??
Opportunities Loss adalah kesempatan yang hilang.
Opportunities Cost adalah biaya yang ditimbulkan oleh kesempatan.

Sesuatu kesempatan bisnis itu bisa loss atau bisa juga menimbulkan cost.

Kita lihat 2 tawaran bisnis ini dihadapkan di depan kita:
1.Bisnis ‘Bakso’ dengan modal 10 jt tingkat keuntungan bersih per bulan adalah 3 jt sehingga bisa dihitung tingkat BEP kita adalah 3,3% bulan.
Dalam setahun sehingga kita bisa mendapatkan keuntungan 36 jt.
Dan prosentase keuntungan kita adalah 30% dari modal perbulannya.
2.Bisnis ‘Kontrakan’ dengan modal 100 jt tingkat keuntungan bersih per bulan adalah 5 jt
Sehingga tingkat BEP nya adalah 20 bulan.
Dalam setahun mendapat keuntungan 60 jt.
Dan proesentase keuntungannya adalah 5 % dari modal perbulannya.

Apabila rekan-rekan mempunyai uang 100 jt bisnis apa yang akan di pilih..?????

Jika rekan memilih bisinis yang ke-2 dengan alasan karena tingkat resikonya lebih kecil dan lebih mempunyai prospek jangka panjang dan nominal keuntungan lebih besar.
Mari Kita lihat apakah ‘bisnis opportunities’ yang kita ambil itu Loss atau Cost…..
Kalau memilih bisnis ke-2, maka bisnis ‘bakso’ adalah sebuah opportunities loss.(kesempatan yang hilang)
Kita kehilangan bisnis ‘bakso’ karena uang kita tidak bisa untuk bisnis bakso. Dikarenakan uang kita habis untuk memilih bisnis ‘kontrakan’
Keuntungan yang didapat bisnis ‘bakso’ sebesar 3 jt adalah opportunities cost. (biaya yang timbul dari kesempatan)
Karena kita akan kehilangan keuntungan akan bisnis ‘bakso’ yang seharusnya kita dapatkan jika memilihnya.
Jadi keuntungan ekonomi dari bisnis ‘kontrakan’ adalah
keuntungan akunting – opportunities cost
yaitu 5 jt – 3 jt = 2 jt

Sehingga keuntungan ekonomi akan bisnis ‘kontrakan’ hanya 2 % saja tiap bulan.
Apabila rekan-rekan uang itu didapat dari bank dengan bunga 1,8% per bulan maka keuntungan ekonominya adalah hanya 0,2 % per bulan.
Sedangkan bila pinjam dari BPR dengan bunga 2,5% per bulan maka akan terjadi kerugian ekonomi sebesar 0,5% per bulan.
Apakah rekan-rekan mau dengan mengambil Bisnis ini…??
Bagaimana Jika Kita memilih bisnis bakso.??
Kita lihat artikel selanjutnya..
(Bersambung)

BLOG DISTRO -KEHIDUPAN


Ketika seseorang tengah berjuang untuk mendapatkan nafkahnya, kita biasa menyebutnya ‘sedang mencari penghidupan’. Sedangkan ketika seseorang memberi nilai kepada dunia dengan apa yang bisa dilakukannya, maka kita menyebutnya; ‘berkontribusi kepada kehidupan’. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mirip, namun antara ‘penghidupan’ dan ‘kehidupan’ itu terdapat perbedaan yang signifikan. Albert Schweitzer menggambarkannya dalam sebuah kalimat yang indah; “We make a living by what we get, but we make a life by what we give”. Kita memperoleh penghidupan dengan apa yang kita dapatkan, namun kita membangun kehidupan dengan apa yang kita berikan. Dalam nasihat itu ada sebuah isyarat untuk terus gigih berusaha agar mendapatkan nafkah yang layak. Namun pada saat yang sama, kita diingatkan untuk berkontribusi kepada orang lain. Mengapa? Karena nilai hidup kita tidak semata-mata ditentukan oleh pendapatan kita, melainkan oleh kontribusi kita.
Mana yang harus didahulukan; penghidupan ataukah kehidupan? Idealnya, keduanya bisa berjalan saling beriringan. Namun, hal itu bukan soal yang mudah. Kebutuhan nafkah sering menempatkan saya pada situasi dimana ‘mendapatkan’ sesuatu harus menjadi prioritas sehingga ‘memberikan’ sesuatu sering terabaikan. Awalnya saya percaya bahwa ‘nanti kalau saya sudah sukses’ maka saya akan bisa ‘memberi atau melakukan sesuatu’ untuk orang lain. Namun, kenyataannya saya tidak pernah sampai kepada titik yang bernama ‘nanti’ itu. Hal itu berlangsung terus sampai saya menemukan bahwa kita bisa berkontribusi melalui hal-hal yang paling sederhana. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar berkontribusi melalui hal-hal sederhana seperti yang saya maksud; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1.      Berkontribusi tidak selalu berupa materi. Selama masih mengira bahwa berkontribusi harus selalu dengan materi maka seseorang akan selalu dihadapkan kepada perbenturan antara kebutuhan keluarganya dengan ‘panggilan hati’. Oleh sebab itu, wacana kontribusi sering menjadi seperti hak istimewa orang-orang yang memiliki kelapangan harta. Jika untuk memenuhi keperluan biaya sekolah anak saya saja masih harus pusing tujuh keliling, bagaimana saya bisa melakukan sesuatu bagi orang lain? Untungnya, guru kehidupan saya mengingatkan bahwa memberi tidak harus selalu berupa materi. “Jika Engkau punya tenaga, maka tenagamu adalah sumberdaya utama dalam berkontribusi,” begitu nasihatnya. Mungkin dengan waktu, atau ilmu yang Engkau miliki. Mungkin dengan sekedar sebuah kalimat penyemangat. Atau, bahkan sekedar dengan senyum yang menyenangkan hati orang-orang yang melihatmu. Ada banyak cara untuk berkontribusi. Dan semuanya itu, tidak harus berupa
materi.
2.      Menemukan misi hidup. Kita sering melihat orang-orang yang tanpa lelah terus berkontribusi kepada kehidupan orang lain. Sekalipun untuk itu mereka harus berbagi energy dan usaha. Bahkan disaat hidupnya sendiri sedang ‘tidak terlampau indah’, mereka terus gigih untuk membuat hidupnya berarti. Mengapa begitu? Seseorang mengajarkan sebuah jawaban yang membuat hati saya terpana. “Misi hidup,” katanya. Yakinlah bahwa kehadiran kita di muka bumi bukanlah tanpa misi. Sayangnya, kita sering lupa atas misi yang kita emban itu sehingga kita terlena dalam jibaku perjuangan mempertahankan hidup. Akhirnya kita tenggelam dalam kesibukan mencari penghidupan. Suatu hari, seseorang bertanya kepada saya “Apa misi hidupmu Nak?” Saya tidak dapat menjawabnya. “Temukan itu didalam hatimu,” katanya. “Tanpa itu, Engkau tidak akan pernah menjadi rahmatan lil’alamin”
3.      Hidup bukan sekedar soal duniawi. Kita sudah sejak lama percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Jika hal itu benar, maka setiap tindakan kita selama hidup di dunia menjadi patokan seberapa baiknya kualitas kehidupan kita dialam setelah kematian. Semakin banyak kontribusi yang kita berikan semasa hidup, semakin baik pula apa yang bisa kita dapatkan di dunia baru yang kelak akan kita huni. Jika kontribusi kita hanya sedikit, barangkali hanya sedikit juga apa yang akan kita dapat. Lantas, bagaimana jadinya kehidupan kita nanti jika kita tidak berkontribusi sama sekali? Pantaslah jika guru kehidupan saya selalu mengingatkan bahwa;”sebaik-baiknya manusia adalah dia yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.” Beliau mengingatkan agar tidak terlalu sering terjebak untuk mengurusi kepentingan-kepentingan pribadi semata. Apalagi sampai terjebak dalam ego yang menutupi hati sehingga sangat sulit untuk dimasuki panggilan-panggilan
suci. Padalah, hidup bukan sekedar soal duniawi.
4.      Bertemanlah dengan orang-orang yang positif. Hidup adalah pertanda masih adanya energy didalam diri kita. Sedangkan energy didalam setiap individu merupakan perpaduan antara energy positif dan energy negatif. Maka wajar jika bentuk aliran energy didalam diri kita sangat dipengaruhi oleh bentuk energy yang ada di sekitar kita. Sangat sulit untuk menjadi positif jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang bersikap negatif, misalnya. Atau sebaliknya, saat berinteraksi dengan orang-orang yang bersikap dan bertindak secara positif, kita jadi lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang positif. Hal itu pasti terjadi baik secara terpaksa maupun sukarela. Di lingkungan orang-orang positif kita akan ikut ‘terbawa arus’ positif. Jadi jika ingin ‘merasa ringan hati’ saat melakukan hal-hal yang positif, maka sebaiknya kita memperbanyak teman yang bersikap positif.
                              
5.      Memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi. Meskipun kita percaya bahwa cara untuk berkontribusi itu begitu banyaknya, tetapi tidak berarti kita bisa ikut berkontribusi. Boleh jadi karena kondisi tidak memungkinkan. Atau mungkin karena kita tidak ingin berkontribusi saja. Bagaimana pun juga kita adalah tuan bagi kehidupan kita sendiri sehingga kita berhak untuk menentukan apapun yang ‘kita lakukan’ atau ‘tidak kita lakukan’. Namun, kebebasan itu juga berarti bahwa kita tidak memiliki hak untuk menghalangi orang lain yang hendak berkontribusi untuk kehidupan dunia yang lebih baik. Artinya, bersamaan dengan kewenangan kita untuk menentukan pilihan hidup kita sendiri terselip sebuah kewajiban untuk menghargai aspirasi orang lain untuk berkontribusi. Maka sudah sepatutnya kita memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi, bukan? Sebentar dulu. Jika Anda memberi ruang kepada orang-orang yang hendak berkontribusi; maka
sesungguhnya Anda pun sudah berkontribusi lho.
Jika kita masih percaya akan keberadaan sisi baik dan sisi buruk dalam diri kita, maka kita pasti percaya bahwa kita bisa berkontribusi untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan yang kita miliki. Untuk memulainya, kita bisa bertanya kepada diri sendiri; nilai-nilai kebaikan apa yang bisa saya kontribusikan hari ini?
Catatan Kaki:
Banyak orang bersedekah karena percaya bahwa harta mereka akan bertambah banyak seiring dengan semakin banyaknya sedekah yang mereka berikan. Agar semakin bersemangat untuk berbagi kebaikan dengan orang lain, mungkin kita juga harus belajar percaya bahwa kebaikan didalam diri kita akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan yang kita tebarkan.

MENGENAL 10 PERALATAN SABLON


Sebelum kita tau tentang teknis proses menyablon, lebih dahulu kita kudu kenal beberapa peralatan dan perlengkapan yang penting dalam sablon.
Peralatan inti yang kita butuhin beserta penjelasannya ney..
1. Film sablon. Ni bisa dikatakan model gambar/desain/tulisan yang bakal kita tuangkan dalam obyek sablon (kaos, kertas, plastik, karton, dsb. Film ini dibikin melalui desain komputer yang diprint pake tinta laser (sebenere pake tinta printer biasa siy bisa aja, tapu hasilnya kurang bagus/tajam). Desain sablon kebanyakan dibikin pake Corel ataupun Adobe.
2. Screen (baca: skrin), ni media yang dipake untuk mengantarkan tinta sablon ke obyek sablon. Bentuknya balok yang disusun persegi empat kemudian dipasang kain khusus. Ukurannya bermacam-macam, misalnya ada screen yang berukuran 30x40cm, 20×30 cm, sampe ada screen ukuran “raksasa” yang biasa dipake wat bikin spanduk.
3. Rakel. Ni temennya Screen, gunanya untuk mengkuaskan tinta sablon yang ada di Screen supaya tercipta gambar di obyek sablon. Bahannya dari karet yang diberi pegangan kayu memanjang.
4. Tinta sablon. Bermacam-macam jenis dan nama tinta bergantung dari sablonan apa yang mo kita bikin. Tinta yang buat sablon kos aja ada banyak macamnya. Ada juga tinta sablon kaos yang bisa bikin timbul setelah kita setrika.
5. Cairan-cairan pencampur. Ni gunanya wat mencampurkan tinta agar sesuai dengan tingkat kekentalan and warnanya. Bisa cairan M3, M3 Super, tinner, minyak tanah, dan sebagainya.
6. Meja sablon. Tentunya kalo kita mo nyablon perlu meja sablon wat ngletakin obyek sablonannya. Meja sablon ni terbuat dari rangka besi ato kayu. Di bagian atas adalah kaca transparan, dan dibawahnya diletakkan lampu neon agar bisa terlihat jelas saat menyablon.
7. Hair dryer. Jangan kira alat ini cuman dipake di salon aja. Ni berguna untuk mengeringkan sablonan, apalagi pada saat musim hujan yang jarang ada sinar matahari terik.
8. Lampu Neon, temannya meja sablon. Diletakkan di bawah kaca meja yang ditempel dengan rangka besi ataupun kayu.
9. Tempat penjemuran. Ini bisa berupa kayu panjang berukuran 1,5 meter untuk tempat menjemur kaos yang sudah disablon agar cepat kering. Jumlahnya tergantung banyaknya kaos yang disablon. Peran sinar matahari terik sangat dibutuhkan agar proses pengeringan lebih cepat.
10. Beberapa peralatan pendukung. Seringnya kita lebih banyak membutuhkan beberapa peralatan pendkung agar menyablon lebih mudah dan cepat. Banyak perlatan yng kadang tak terpikirkan malah bisa mmebantuk proses menyablon ini

TENTANG BISNIS KAOS DISTRO


- Membuat sablon baju bisa menjadikan salah satu peluang dalam bisnis baju distro. Baju distro memang sangat digemari oleh anak remaja, karena desainnya yang terbatas dan tidak diproduksi dalam jumlah banyak.
Kreatifitas penting pada saat membangun bisnis baju distro ini. Prospeknya pun sangat bagus dan mudah dipasarkan, baik dengan menitipkan di distro atau pun dengan menjual secara online.

Bagi anda yang berminat dengan bisnis kaos distro ada beberapa tips dan persiapan untuk memulai bisnis ini:
  • Persiapkan modal, gunakan potensi modal yang ada, meskipun modal sedikit Anda masih bisa memulainya. Dari sini anda bisa menentukan target pasaran nantinya. Anda bisa mengambil barang dari distributor atau membuat sendiri.
  • Jika anda memiliki kemampuan dalam desain, Anda bisa membuat desain kaos sendiri, mencari bahan atau bisa juga kerja sama dengan pelaku usaha di sekitar daerah Anda.
  • Untuk pemasaran skala kecil, anda bisa memulai dengan menitipkan di distro atau juga bisa membuka outlet sendiri di daerah yang strategis misalnya deket sekolah atau daerah tempat berkumpulnya anak muda. Selain itu anda bisa menggunakan forum di internet untuk memasarkannya.
  • Selalu update desain dan model Baju distro sesuai dengan tren yang ada pada saat itu. Jagalah selalu kualitas bahan dan keunikan desain agar semakin banyak pelanggan

5 LANGKAH MEMBUAT KAOS DISTRO SENDIRI


Kaos Distro - Setidaknya ini adalah proses sederhana bagaimana membuat sebuah kaos distro. Kelihatannya simpel, tapi perlu ketekunan karena memang membikin kaos distro tidak bisa sembarangan seperti bikin kaos pemilu.
1. Memilih Bahan
Untuk bahan,  saya sarankan Anda bikin dari cotton combed. Mengingat kaos distro kekuatannya selain ada di desain ada di kualitas bahan. Mengapa demikian, karena kaos distro lebih segmented. Umumnya orang yang punya duit dan educated yang beli. Jadi jangan main-main kalau cari bahan.
2. Pemotongan
Setelah bahan didapat, barulah dipotong sesuai dengan ukurannya,  bisa S, M atau L serta XL. Ini suka-suka saja. Jika ingin memulai, mulailah dari All Size dulu atau L diperbanyak. Selain itu, jangan bikin massal, bikin aja limited edition dan tentukan marketnya.
3. Design
Hmmm, ini bagian yang menarik. DESIGN. Ini perlu inspirasi dan pemahaman yang baik akan kebutuhan customer. Jika desainnya dapat memotret keinginan pasar, yakinlah berapapun produk akan ludes. Ada dua tools penting, pertama tentang seluk beluk desain, yang kedua alatnya. Kuasai Corel + Photoshop, boleh juga yang mau agak ribet masuk ke Adobe Illustrator. Saya sangat suka dengan Corel + Photoshop. Dua ini sudah cukup, yang paling penting adalah designnya. Ada 3 yang perlu didesain, logo, packaging dan gambar dikaosnya. Ketiganya sangat penting
4. Penyablonan
Sablon dapat dikelola sendiri atau dimakloon. Ada berbagai macam teknik sablon, mulai waterbase sampai yang gradasi. Pilih tukang sablon kaos yang berpengalaman.
5. Penjahitan
Setelah dilakukan sablon, baru dijahit.Cari penjahit yang berpengalaman menjahit kaos, biar kaos awet dan tidak robek jika digunakan gerak. Kualitas jahitan bisa dilihat dari kerapian dan kerapatan jahitan.
5A.  Packaging
Woww, sudah jadi deh kaosnya. Agar tampak cantik, bikinlah packaging yang ciamik, Packaging yang unik akan membantu pemasaran kaos.
Ok, semoga membantu kami yang mau masuk industri clothing. Jangan lupa, marketing, marketing dan marketing

5 kesalahan belanja online



Berbelanja online merupakan salah satu kegiatan yang digemari banyak wanita. Namun tak jarang banyak juga yang kecewa karenanya. Ini 5 kesalahan fatal yang harus Anda hindari saat berbelanja online.




1. Tertipu gambar

Foto-foto di toko online terkadang bisa menipu. Tak jarang banyak yang tertipu, karena saat barang datang, kualitasnya sangat jauh dengan yang di gambar. Oleh karena itu, jangan keburu nafsu. Tanyakan dengan detail bahan juga ukuran barang. Untuk baju, tanyakan lebar dada dan lebar pinggul dalam centimeter. Untuk sepatu, tanyakan panjang tapak tiap-tiap ukurannya, agar Anda tak salah beli.

2. Tertipu harga murah

Banyak toko-toko online yang menawarkan barang dengan harga di bawah pasaran. Tapi jangan buru-buru tergiur. Tak sedikit toko online yang menjadi modus penipuan. Saat pembeli tergiur membeli banyak barang dan mentransfer uangnya, si penjual hilang bagai tertelan asap. Jangan pernah percaya jika harga yang ditawarkan tak masuk akal. Jangan juga berbelanja di sembarang toko online. Pilihlah toko-toko yang terpercaya dan mendapatkan ulasan yang baik dari para pembelinya.

3. Menyimpan informasi pribadi di komputer dan tidak menguncinya

Terkadang kita menyimpan nomor kartu kredit usai bertransaksi online dan tidak mengaktifkan sistem keamanan komputer. Hal ini sangat berbahaya karena bisa saja orang lain memakai kartu kredit untuk berbelanja tanpa sepengetahuan Anda.

4. Koneksi Internet yang lambat

Koneksi Internet yang lambat bisa merugikan Anda saat berbelanja online. Saat Anda melakukan transaksi dengan kartu kredit dalam keadaan koneksi tak stabil, kesalahan sangat mungkin terjadi. Transaksi Anda bisa gagal, namun tagihan sudah terlanjur masuk ke kartu kredit Anda. Pastikan Anda menggunakan koneksi Internet yang stabil sebelum berbelanja online.

5. Tak memperhitungkan ongkos kirim

Harga barang yang Anda beli memang murah, tapi coba dicek juga ongkos kirimnya. Jika Anda dan pembeli berada di satu lokasi, biasanya ongkos kirim tak mahal, namun jika lain kota bahkan negara, jangan-jangan, ongkos kirim yang Anda bayarkan justru lebih mahal dari harga barangnya sendiri.

15 Karakteristik Pengusaha Muda Sukses dari Ken Morse


Kenneth P. Morse, seorang dosen senior dan direktur pelaksana MIT Entrepreneurship Center membicarakan mengenai faktor pemicu sukses dalam entrepreneurship.
Menurut pengalamannya, entrepreneur terbaik biasanya:
  1. berintegritas
  2. berjiwa pemimpin
  3. bersikap tidak sabaran dengan kecenderungan menuju tindakan (dengan analisis)
  4. memiliki kecepatan kerja yang tinggi
  5. memiliki ego yang terkendali, mampu menerima petunjuk, mengakui dan merekrut orang lain untuk menebus kelemahannya
  6. Mau menjadi berbeda tetapi juga tahu apa itu perbedaan
  7. bersikap pragmatis, mau berkompromi agar maju terus
  8. bersikap kstaria saat pesaing menang
  9. tergerak untuk memecahkan masalah bagi pelanggan yang dianggap memiliki makna (bukan didorong oleh uang atau teknologi)
  10. Mampu menarik orang berbakat prima
  11. membangun tim berkualitas
  12. mengembangkan teknologi serius dengan kekuatan yang berkelanjutan
  13. Penjualan bisa lebih penting dari teknologi
  14. mendapat pelanggan sebelum mendapat investasi
  15. mengatur arus kas usaha

Lulusan SMA Menjadi Pebisnis Kaos Distro Muda Sukses


Agtya Priyadi, seorang pemuda yang sukses menancapkan namanya di kancah Entrepreneurship di Indonesia juga memulainya bukan dengan jalan yang mudah.
‘Dapat dibayangkan saat pemuda lain melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah, ia malah sudah harus bekerja untuk menyambunghidupnya karena di umur yang masih sangat muda tersebut orang tuanya sudah pergi ke pangkuan Illahi.
Menjadi Entrpreneur memang tidak perlu menempu pendidikan yang tinggi, seperti yang dilakukan oleh pemuda yang biasa disapa Agit ini. Ia hanya lulusan SMA saat memulai usahanya, yang bahkan tidak dimulai dengan modal yang berlimpah. Dengan uang hasil kerja kerasnya dan bermodalkan pengalaman kerja di distro bernama “Gazelle”, ia pun hanya mampu untuk membuat stiker dengan gambar gurita lucu berwarna ungu untuk nama brand miliknya sendiri, “YeahRight!”.
Seperti yang pernah Agit jelaskan kepada Oktomagazine, sebuah gimmick, atau teknik pemasaran, yang unik memang menjadi salah satu modal utama untuk membuat brand yang dimiliki dapat menarik perhatian banyak orang. Anda tidak dapat hanya diam saja atau mengandalkan promosi dari mulut ke mulut untuk memasarkan usaha dengan cepat.
Agit pun terus mengembangkan usahanya sendiri sambil tetap bekerja di distro tersebut. Dengan keterampilan mendesain, ia pun terus membuat konsep gimmick yang unik dan gambar yang menarik. Hingga akhirnya ia mampu sedikit demi sedikit menjual kaos karyanya tersebut, selusin diteruskan dengan lusinan lainnya, dan hasilnya adalah laku!
Sejak saat itu ia semakin giat untuk mengembangkan brand YeahRight! miliknya tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai Store Manager di distro tersebut. Salah satu contoh yang patut ditiru oleh pemuda, khususnya remaja, dalam berjuang demi hidup dan bisnis yang dirintis.
Di tengah kesibukannya bekerja di distro dan mengurusi brand miliknya, ia pun tidak lantas berpuas diri, Agit melanjutkan kreatifitasnya dengan membuat brand yang baru dengan konsep yang berbeda. “Woles” pun akhirnya lahir satu tahun setelah YeahRight! berhasil mengambil hati para pecinta kaos di Indonesia ini. Dengan desain yang sederhana, lambat laun Woles pun meneruskan keberhasilan bisnisnya yang telah berjalan sebelumnya.
Agit juga menjelaskan bahwa berjualan tidak harus selalu memiliki toko sendiri, oleh karena itu kedua brandyang dimilikinya pun dititipkan di distro di beberapa kota, selain ia masih tetap menjualnya dan menerima pesanan via online.
Kini pemuda bersahaja ini sudah mulai fokus pada bisnisnya, karena sejak Januari ia sudah tidak bekerja lagi di distro tersebut dan mengontrak sebuah rumah di kawasan Fatmawati bersama dengan kakaknya, Ayi Mahardika. Ia pun kini sudah mempekerjakan beberapa orang untuk membantu mengembangkan bisnisnya yang dijalankan.
Itu berarti kini pemuda tersebut telah berhasil menjadi Entrepreneur dengan menjalankan bisnis serta mampu membuka lapangan kerja bagi orang lain, walau perjalanannya ke depan masih sangat panjang.

Kumpulan Kisah Pengusaha Kaos Distro


 Untuk bertahan di bisnis distro enggak mudah. Mesti kreatif jualan juga. Kini, distro enggak cuma ngejual barang dagangan di tokonya saja. Gaya belanja masa kini dengan sistem online juga dilakukan distro. Lagian, pembeli lebih suka menggunakan jasa belanja online ini.


”Sekarang kadang-kadang orang malas pergi ke toko, mendingan buka internet, terus belanja. Banyak pelanggan kami yang belanja online, baik di Jakarta atau luar daerah. Bahkan, ada yang dari luar negeri,” ungkap Public Relation PT Endorsindo Makmur Selaras Frissy Bella Apriditha alias Sissy.
PT Endorsindo mempunyai tiga toko, yaitu Bloop, Endorse, dan Urbie. Untuk setiap desain akan dibuat sebanyak 60 unit. Produk kaus dibanderol dengan harga Rp 95.000-Rp 130.000. Dalam sehari, setiap distro bisa menjual sekitar 100 kaus atau baju distro.
”Kalau modelnya lagi banyak disuka pembeli, dalam waktu satu sampai dua minggu sudah habis. Seperti kaus yang bergambar Bagus Netral, cepat sekali habisnya,” kata Sissy.
Strategi lainnya, Bloop dan Endorse juga menggandeng artis-artis untuk desain-desain baju. Selain Bagus Netral dengan kausnya yang unik, ada juga Widi Kidiw (Viera) dan Naif. Selain itu, juga ada blogger fashion Diana Rikasari yang mendesain baju-bajunya sendiri untuk dijual di distro Endorse.
Minat dengan barang-barang di distro yang tetap besar juga terbukti di Unit 67, distro yang baru buka enam bulan lalu. Distro ini menjual kaus-kaus bertema band-band underground dan mengkhususkan pada merchandise musik. Pemilik Unit 67, Bani Terasyailendra, mengungkapkan, dalam satu bulan bisa menjual 30-35 kaus.
”Bulan pertama sampai ketiga belum terlihat penjualannya, semakin lama semakin naik grafiknya. Omzet penjualan bisa sampai 80 persen. Pembelinya anak-anak muda yang memang ngefans dengan band-band aliran punk, metal,” ujar Terasyailendra.
Penjualan yang tinggi membuat stok Bani sudah habis. ”Hanya tinggal barang yang di- display saja. Kalau mereka penggemar fanatik pasti akan membeli jika ada kaus baru,” cerita dia.
Begitu pula distro yang terletak di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat. Dengan lokasi yang strategis, distro ORK 689 banyak diminati kaum muda. Barang-barang yang ditawarkan juga lebih variatif. ”Sebagian besar barang di sini buatan kami sendiri. Seperti tas, baju, dan sandal jepit merupakan kreativitas kami,” kata Heri yang menjaga ORK 689

Buka Usaha Distro Omzetnya Rp40 Juta/Bulan Wilda Asmarini



Istilah distribution store (Distro) mungkin kini sudah tidak asing lagi di telinga Anda, khususnya di kalangan remaja. Banyak remaja kini cenderung memilih distro sebagai tempat mereka berwisata belanja pakaian, ketimbang di sejumlah toko-toko retail besar kenamaan di negeri ini.

Terlebih ciri khasnya yang memiliki edisi model dan jumlah kaos terbatas (limited-edition), maka kaos maupun produk distro lainnya makin digemari para muda-mudi.

Namun, kini bisa dikatakan harga kaos-kaos distro memang sudah kompetitif dan tidak lagi semurah saat di awal distro ada. Makin banyaknya pebisnis distro ini disinyalir sebagai alasan harga-harga maupun varian produk distro kini makin meningkat.

Apalagi bahan-bahan kaos buatan garmen lokal kini juga makin tinggi akibat makin banyaknya bahan kain impor China, serta kenaikan tarif dasar listrik (TDL).

Merasa harga kaos distro semakin tinggi, seorang lelaki bernama Mohammad Affandi (26) merasa penasaran dan tergerak ingin mencari tahu mengapa harga kaos saja bisa semahal itu.

Dia yang pada saat itu bekerja di sebuah distro cukup ternama di Bandung mulai memperhatikan dan tidak malu bertanya kepada rekanannya di sana bagaimana proses pembuatan kaos tersebut. Setelah mengetahuinya, dia pun tergerak ingin mempunyai usaha sendiri.

"Awalnya saya bekerja di sebuah distro di Bandung. Saya melihat kok harga-harga kaos makin mahal saja ya, saya pun jadi tergerak untuk mencari tahu bagaimana prosesnya dan apa benar harga aslinya juga semahal itu. Saya pun bertanya kepada teman saya yang berpengalaman di sana, lama-lama jadi tahu. Dari situ lah saya ingin bergerak punya usaha sendiri," tutur lelaki yang mengaku tidak menamatkan kuliahnya di jurusan desain grafis, kepada okezone, belum lama ini.

Namun, bukan usaha distro lah yang dipilihnya sebagai lahan usahanya, melainkan usaha bagian produksinya yaitu sablonan. Meski usaha sablon, dia tetap memilih sablon khusus pakaian distro yang diproduksinya, bukan sablon spanduk, kaos olahraga, jaket, atau pun kaos-kaos pesanan partai politik.

"Saya memutuskan untuk membuka usaha sablonan ini karena saya hobi mendesain yang sangat erat hubungannya dengan proses sablon dan harus detail. Selain itu, modal usahanya minimalis, kerjaannya juga santai, tapi tetap menguntungkan," ujarnya.

Mula buka usahanya itu, dia mengaku mengeluarkan modal awal Rp15 juta. Itu pun hanya untuk membeli peralatan sablon seperti cetakan sablon, 400 papan tempat kaos yang akan dicetak, meja sablon, dan perlengkapan lainnya. Sementara untuk kain atau bahan kaos, menurutnya itu sudah masuk ke bagian produksi, sehingga modal untuk bahan dimasukkan ke dalam biaya pemesanan pelanggan.

"Modal awal tersebut saya peroleh dari hasil tabungan saya bekerja di distro sebelumnya dan juga hasil pekerjaan saya yang pernah menjadi agen penyalur pesanan dari pelanggan ke orang-orang sablonan," ungkap pebisnis sablon sejak dua tahun lalu itu.

Meski modal awal yang dikeluarkan cukup besar, menurutnya itu berlaku dan bermanfaat untuk jangka panjang. Buktinya, katanya, sampai saat ini dia masih menggunakan peralatan yang dia beli di awal tersebut.

Bahkan, dia mengatakan sejak setahun lalu dia sudah menambah satu mesin press (mesin cetak) seharga Rp14 juta. Sebelum memiliki mesin cetak tersebut, dia mengaku menitipkan ke sablonan lain yang memiliki mesin cetak tersebut.

"Sebenarnya dua sampai tiga bulan mula bisnis, itu (mesin press) sudah bisa dibeli, tapi masih ada kebutuhan-kebutuhan yang lebih penting lainnya," tukasnya.

Dia mengatakan, dari usahanya itu dia bisa memperoleh omzet Rp40 juta per bulan dengan laba sekira 25 persennya atau sekira Rp10 juta. Penghasilan tersebut berasal dari pemesanan sekira 2.000 lembar (pieces) kaos tiap bulannya. Tapi bila pemesanan sedang ramai, khususnya saat jelang Ramadhan, libur sekolah, dan akhir tahun, maka produksi bisa mencapai 6.000 kaos.

"Bila Ramadan, omzet bisa naik tiga kali lipat dan laba bisa mencapai Rp40 juta. Itu dari pemesanan 6.000 pieces (full order)," ungkapnya.

Meski berlokasi di Bandung, tapi menurutnya banyak pemesanan justru datang dari luar Bandung, yakni dari Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Alasannya, karena distro-distro di Bandung biasanya sudah memiliki usaha produksi atau sablonan sendiri.

Kini, usaha sablonan itu telah mempekerjakan 15 orang, bertambah dari awal usaha yang hanya memiliki delapan orang karyawan.

Untuk mengembangkan bisnis sablonannya itu, menurutnya tidak terlepas dari prinsip kepercayaannya kepada pelanggan. Selain itu, jujur, tepat waktu, dan tetap menjaga kualitas produk harus tetap dikedepankan.

"Kita harus menjaga kualitas dan memberikan excellent service (servis terbaik) kepada pelanggan, dan tentunya saling percaya," imbuhnya.

Kendati demikian, bukan berarti usahanya itu tidak mengalami satu pun kendala. Kendala, menurutnya pasti ada, seperti dalam mencari bahan.

Karena menurutnya di pabrik itu belum tentu selalu tersedia stok warna bahan yang dia butuhkan. Solusinya, dia harus bisa mengakali mencari jenis warna bahan yang tidak begitu jauh dari tipe warna yang dia butuhkan.  

"Kalau dari pembayaran pemesanan, Alhamdulillah tidak pernah (ada kendala). Karena di antara kami juga ada kesepakatan akan adanya sistem pembayaran mundur. 
Misalnya, produksi selesai 1 Agustus, maka pelunasannya bisa satu bulan setelah itu," tuturnya.

Produksi Desain Sendiri

Selain menerima desain orang lain dan memproduksinya, ternyata usaha sablonan Affandi ini juga memproduksi kaos merek dan desainnya sendiri. Ilmu yang diperolehnya sewaktu masa kuliah di jurusan desain grafis ternyata tidak disia-siakannya. Dia pun memiliki dua merk desainnya, yaitu Mellow dan Littlecake.

"Kalau produksi merk kaos sendiri sih tidak banyak, proporsinya paling hanya sekitar 20 persen dari total produksi. Itu juga kalau ada sisa-sisa bahan kaos yang sudah tidak terpakai lagi," ujarnya.

Menurutnya, dari bahan sisa pemesanan pelanggannya itu bisa dia manfaatkan untuk mengolahnya lagi menjadi kaos mereknya itu. Dia pun menjual seharga Rp80 ribu untuk kaos hasil desainnya itu. "Itu dijual Rp80 ribu, tapi kan limited edition (edisi terbatas)," tukasnya.

Ternyata kaos desainnya itu juga banyak peminatnya. Meski dia hanya mempromosikannya dari mulut ke mulut atau dari internet, seperti facebook, ternyata animo teman-temannya cukup baik. Dia pun banyak memperoleh pesanan kaos desainnya itu. "Ya, lumayan juga ternyata peminatnya," imbuhnya.

Selain diproduksi menjadi kaos desain sendiri, ternyata sisa-sisa bahan produksi itu juga masih bernilai ekonomis. Pasalnya, sisa-sisa bahan menurutnya terkadang juga dibeli penadah kain bekas yang biasa mereka olah lagi menjadi jok kursi dan sebagainya. Sisa kain bekas itu bisa dihargai Rp8 ribu per kg.

"Lumayan juga hasilnya, yang tadinya cuma kain bekas dan tidak bisa diapa-apakan lagi, ternyata masih bisa menghasilkan uang lagi," pungkasnya.
(ade)